Rabu, 03 Agustus 2016

Perilaku dan Pola Berfikir


Oleh: Zulfadli Aminuddin

Masih ingat kasus pembunuhan beberapa waktu lalu yang dilakukan seorang dosen sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka terhadap istrinya?. Pembaca pasti kaget mengetahui ini apalagi saya lebih kaget lagi, karena dosen yang namanya Ilmul Khaer ini teman kuliah seangkatan dengan penulis di Fakultas Hukum Unand. Dia tidak seperti saya karena dia terus melanjutkan kuliah sampai S3 atau mendapat gelar Doktor dalam ilmu hukum internasional.

Penulis tidak habis pikir dan selalu timbul tanda tanya besar dalam benak penulis kenapa dia sampai melakukan hal tersebut. Logika penulis nyaris tidak mampu menjelaskan ini. Dia dikenal kalem dan sangat baik, meskipun penulis jarang berjumpa sewaktu kuliah tapi penulis tahu bahwa dia orang yang baik. Bahkan informasi yang penulis peroleh dari orang yang mengenalnya baru-baru ini bahwa dia itu rajin beribadah ke masjid. Kesimpulan sementara penulis, ternyata ketinggian ilmu yang diperoleh seseorang tidak berbanding lurus dengan kebaikan hatinya. Timbul pertanyaan lagi apa persoalan dan seberapa berat persoalan itu sehingga sampai melakukan perbuatan yang katakanlah gila tersebut apalagi dilakukan kepada keluarga sendiri.

Kita tidak perlu membahas kasus yang menimpa teman penulis ini tapi ada satu inti persoalan yang dapat kita ambil hikmahnya, setidaknya untuk kehidupan pribadi kita. Bahwa apabila ada persoalan yang betapapun beratnya jangan kita hadapi dengan emosi semata tapi harus kita hadapi dengan iman dalam dada dan sejenak tenangkan fikiran. Lantas kita berfikir  yaitu dengan cara memandang ke depan apa akibat yang akan terjadi bila tindakan ini kita lakukan.

Mungkin yang penulis katakan mudah dalam ucapan tapi mungkin sulit dalam penerapan. Namun setidaknya sebagai acuan awal sebelum kita bertindak lebih jauh, apalagi perbuatan membunuh yang dilakukan itu sungguh suatu dosa besar jangankan membunuh memukul saja sudah perilaku salah.

Apakah tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh, tentu saja ada. Jangan kita berfikir sendiri mengatasi persoalan apabila sudah mentok cara menyelesaikannya dengan isteri kita, tapi ada jalan lain yaitu beri ruang kepada orang lain atau pihak ketiga yang kita percayai dan kita hormati untuk membantu kita mengatasi persoalan. Atau kita serahkan kepada Allah, kita bermohon kepada Allah supaya Allah menolong kita agar kita dapat keluar dari persoalan yang dihadapi.

Pembaca dan penulis pasti sependapat bahwa kejadian seperti ini tidak terulang lagi bagi siapa saja dikemudian hari apalagi bagi keluarga anda sebagai pembaca dan saya selaku penulis. Cukuplah sekali. Ternyata tingginya ilmu pengetahuan kita tidak cukup apabila tidak diimbangi dengan iman dan ketaatan kita kepada Allah.

Jangan kita beribadah hanya berupa seremonial belaka yang bukan karena Allah tapi karena sesuatu selain Allah. Kita rajin beribadah tapi kering dari makna ibadah yang kita lakukan. Mari kita luruskan niat dari sekarang dalam menghadapi hidup ini sebelum terlambat. Janganlah hendaknya pola fikir dan perbuatan kita bertolak belakang dengan perilaku kita sehari hari.

Kejadian demi kejadian yang kita saksikan maupun yang kita alami secara langsung, apakah yang baik ataupun yang buruk hendaknya menjadi pelajaran yang amat berharga bagi kita di dunia ini dan agar tidak menjadi penyesalan bagi kita dikemudian hari. Ibarat kata pepatah; sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar