Sejarah

NAGARI KAPAU

Oleh: Muslih Sayan 

Kapau VI Suku, adalah suatu Kenagarian dan merupakan pemerintahan terendah di Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Letak tepatnya dari pusat kecamatan sekitar 2kmke utara dan 6 km ke selatan , adalah pusat kota Bukittinggi. Jadi sebelah selatanNagari Kapau berbatasan langsung dengan Mandiangin (Kota Bukittinggi).

Secara geografis, batas Nagari Kapau adalah: Sebelah utara berbatas dengan nagari Koto Tangah dan Gadut. Sebelah selatan berbatas dengan Mandiangin (Kota Bukittinggi) dan Ampek Angkek. Sebelah timur berbatas dengan Koto Merapak (Kecamatan IV Angkat Candung) Kabupaten Agam. Sebelah barat berbatas dengan nagari Gadut.

Nagari Kapau luasnya hanya 475 ha, adalah nagari terkecil dari enam nagari di Kecamatan Tilatang Kamang. Secara tradisional Nagari Kapau terdiri dari 12 jorong(kampung/desa) yang ditata menjadi 3 sidang. Kemudian nagari Kapau juga pernah dijadikan tiga desa, sesuai jumlah sidang—yaitu Desa Induring, Desa Pandam Basasak dan Desa Pasir.

Namun setelah muncul UU No.22/1999, Sumatra Barat kembali ke pemerintahan nagari. Dua belas jorong di nagari Kapau adalah sbb: pada Sidang Induring terdiri dari jorong Pandam banyak, Induring, Koto Panalok, Cingkariang dan Padang Cantiang. Sedangkan pada Sidang Pandam Basasak adalah, jorong Koto Panjang, Koto Panjang Hilir, Korong Tabik dan jorong Cubadak. Ada pun untuk Sidang Pasir terdiri dari Jorong Parak Maru, Ladang Laweh dan jorong Dengkek atau Paninjauan.

Rata-rata tiap jorong itu, warganya merantau ke semenanjung Malaysia dan Brunai Darussalam. Dari sekitar 20.000 peduduk Kapau, hanya yang tinggal di kampung 3.000 orang . Selebihnya merantau– lebih banyakke Malaysia. Dan sebagian lagi merantau ke berbagai daerah/kota di Indonesia. Hal ini juga dipengaruhi tingkat pendidikan yang relative tinggi (secara rata) pada penduduk usia muda di nagari Kapau, telah membawa pergeseran terhadap curahan pekerjaan yang ditekuni; dari pertanian menuju sektor jasa dan perkotaan.Gejala ini membawa dampak semakin banyaknya lahan sawah dan ladang yang tidak diusahakan.

Akibat dari  itu juga ada 40 persen rumah penduduk, diantara 110 rumah adat Minang, terpaksa ditutup karena pemiliknya banyak merantau. Sekarang untuk mengolah sawah dan menempati sebagian rumah kosong, diterima warga dari negri tetangga sekitarnya, termasuk dari Nagari Candung.

Kegiatan ekonomi masyarakat yang tinggal di nagari itu umumnya bertanam padi, sebagian bertanam sayuran. Kini sudah banyak pula yang mengarah pada home industry; antara lain memproduksi tempe. Pemasaran tempe ini yang biasa disebut konsumen dengan tempe Bukitinggi bukan hanya di Sumbar tetapi juga sampai ke Riau. Begitu juga mulai tumbuh satu-satu usaha membuat sepatu dll.

Disamping itu, usaha yang juga sudah lama digeluti mereka adalah berjulan nasi kapau. Mereka banyak buka rumah makan Nasi Kapau di kota Bukittinggi dan Padang. Dan kota lain di Sumbar.

Adat Koto Piliang

Nagari Kapau memakai adat Koto Piliang (Pimpiann Adat Datuk Katumanggungan) dengan adatnya bertingkat (derajat);
bapucuak bulek baurek tunggang
(berpucuk bulat dan berurat tunggang)

artinya: punya pimpinan adat tertinggi dan yang terendah. Pusakanya turun menurun., besarnya tidak digilirkan.

Tidak sama dengan adat Bodi Caniago yang juga dipakai di Minangkabau dengan(Pimpinan Datuk Perpatih Nan Sabatang), yang berprinsip,
bulek aia ka pambuluah, bulek kato kamufakaik, pusakonyo gadang balega, duduak samo randah, tagaknyo samo tinggi.

(bulat aie ke pembuluh, bulat kata dengan mufakat, besarnya seseorang di gilirkan, duduk sama rendah, tegaknya sama tinggi).

Artinya, bodi chaniago lebih demokratis.

Jumlah suku di Kapau ada sembilan (9) suku; masing-masingnya suku Jambak Gadang, Malayu, Koto, kemudian bergabung dalam satu suku (rumpun) Guci, Pili. Dan sukuTanjung, Pisang, Simabua tergabung pula dalam satu rumpun. Kemudian suku Jambak Kaciak berdiri sendiri. Dengan demikian, ada yang digabungkan menjadi 6 suku (rumpun), dipimpin masing-masing oleh seorang penghulu. Sehingga bernamalah Kapau VI Suku.

Dalam adat enam suku,

basuku ba induak babuah parut, kampuang dibari ba nan tuo, rumah dibari batungganai, panghulu nan anam suku (panghulu pucuak),
itulah yang akanjadi hakim tertinggi dalam Nagari Kapau atapun menurut adat
mamacik arek, mangganggam taguah
tediri dari: Datuak Bandaro sebagai penghulu suku Jambak Gadang, Dt.Mangkudun, penghulu suku Melayu,Dt. Palimo, penghulu sukuKoto, Dt. Tandilangik, penghulu suku Guci dan Pili, Dt.Panduko Basa, penghulu suku Tanjuang, Pisang dan Simabua,Dt. Indo marajo, penghuilu suku Jambak Kacik.

Penghulu yang berenam di atas diberi pituo (diingatkan),kalau tumbuh menurut adat Datuk Bandaro, kalau tumbuhmenurut syarak Dt. Mangkudun, maka keduanya dibesarkanmenurut adat dengan kata mufakat. Kalau melekatkan pusakakedua orang itu ditambah dengan seekor sapi. Sedangkanmengangkat Ninik Mamak (penghulu baru) yang satu induk,masing-masing seekor kerbau. Tetapi Datuk Bandaro danDatuk Mangkudun, satu ekor kerbau dan satu ekor sapi.

Itulahsebabnya Datuk Bandaro dan Datuk Mangkudunsebagai pucuk bulek dalam sukunya masing masing dan pucukbulek dalam yang enam suku. Penempatan pucuk bulek ini berpedoman kepada yang mula-mula turun dari Bukit Kapau keKapau sekarang.

Kedua penghulu ini jugalah yang akan menyelesaikan,memutuskanbiang, manabuakan dengan kato nan hak dalamadat, bila ada perselisiahanpaham di antara ninik mamak yangenam suku ini.

Sidang dan nagari, secara tradisional mempunyaisarana/kekayaan nagari; antara lain menjadin inventaris nagariadalah pasar, balai adat, irigasi. Prasarana lain seperti sekolah,mesjid surau, jalan dan jembatan relative memadai.

Beberapa sarana dan prasarana nagari Kapau adalah: rumahadat 110 buah, rumah permanen 259, rumah kayu 277 buah,pondok 31 buah, TK 2, SD 3, SMP 1, MDA/MTI 4, mushalla22, mesjid 3, posyandu 12, lapangan bola kaki 2, lapanganolahraga lain 21, gilingan padi 2.

Monografi Nagari Kapau

Menurut cerita atau paparan urang tua-tua dalam NagariKapau, tatkala Nagari Kapau belum ditempat orang, tersebutdalam tambo Nagari Kapau, yang telah disahkan oleh kerapatanninik mamak Enam Suku pada tahun 1913.

Dikisahkan, pada masa dahulunya berangkatlan 4 (empat)kumpulan/rombongan dari Pariangan Padang Panjang: yaitu 1.Kapau,2.Kurai,3.Sianok,4.Koto Gadang. Berapa lama masaperjalanan tidak disebutkan. Keempat rombongan itu sampailahdekat batas Agam dengan Tabek Patah dekat Nagari TanjuangAlam. Maka tiap-tiap kumpulan/ rombongn itupun berhentilahdi suatu tempat. Kemudian dengan pengambilan tempatmasing-masing rombongan itu. Berapa banyak satu rombonganitu tidak ada yang data menjelaskan.

Orang Kurai berhentilah di sana itu, tempat sekarangbernama Padang Kurai dan Orang Koto Gadang pun berhentipula di situ, yang sekarang tempat itu bernama Koto Gadangdan Sianok. Demikian pula sampai sekarang bernama Sianok.

Begitu pula urang Kapau berhenti pula ditempat itu, yangsampai sekarang nama kampung itu masih Kapau, yaitu dibawah kayu kapur atau dimana tumbuh kayu itu yang bernamaBukit Kapau. Berapa lama di tempat itu tidak ada satu sejarahatau tambo maupun riwayat yang menerangkan. Tapi keempatrombongan itu pasti berhenati di tempat itu.

Karena kampung atau tempat itu bertambah sempit, makatimbulah pemikiran bagi orang Kapau hendak mencari danmembuat suatu Nagari lain atau tempat, begitu pula denganorang Kurai, Sianok dan Koto Gadang.

Keempat rombongan itu turunlah ke tempat masing –masing.Sekarang meninggalkan pusaka amanat di tempat yangditinggalkan itu. Orang Kapau meninggalkan amanat sebuahLesung Batu yang terletak di Bukit Kapau di atas telaga (satulubuk yang luas) di bawah Batuang Tungga (bambu tunggal).Orang Kurai meninggalkan pusaka atau amanat Sisiak Tabiang,yang sekarang tersebut Sisiak Tabiang urang Kurai di kakigunung Marapi atau Kurai Atas. Sianok meninggalkan pusakaatau amanat sebuah Lasuang Duato, ataupun sekarang amanatitu Lasuang Luluih di Koto Gadang.

Mulai Membuat Nagari

Orang Kapau pun mengutus dan menyusun sebuah badan untukpergi meninjau atau melihat dimana tanah yang lebar dan suburuntuk membuat Nagari. Maka majulah suatu badan yangdiketui induak Datuk Bandaro, Jambak 6 (enam) induak. Makaberjalanlah bersama-sama dan sampai di suatu tempat di didekat Simpang Sungai Jernih. Kenam badang (induak) itumenuju matahari mati dan kemudian sampailah ke kampungKoto kini. Waktu itu belum ada kampung, melainkan rimba dansemak belukar. Orang itu memeriksa di sekeliling Koto yangsekarang ini, maka diberi khabar kepada orang Kapau yangtengah berada di Bukit Kapau.

Kemudian datanglah orang Melayu nan 7 (tujuh) induakuntuk menyaksikan, yang dikepalai oleh Datuk Mangkudun. Karena sudah terbukti tanah itu baik, luas dan subur; makadiberilah khabar sekali lagi ke Bukit Kapau. Maka semua orangyang berada di Bukit Kapau itu turun mandapek (menuju)kampung Koto kini. Seperti dari suku Tanjuang,Pisang,Simabua,3 (tigo) inyiak,Guci Pili6 (enam) induak,suku Koto 3 (tigo) induak, jambak Kaciak 2 (duo) induak.Mana dari keempat suku ini dahulu tiba di Koto sekarang ini,tidak ada yang tahu.

Setelah hadir keenam suku ini maka dimulailah menebas/malaco, menentukan lahan masing-masing serta membuattempat tinggal. Kemudian dibuat taratak untuk berjaga-jaga dipintu Koto, yang menghadap ke Koto Marapak, Nagari AmpekAngkek sekarang. Kemudian mereka juga membuat ladangbersama yang disebut Ladang Laweh. Tetapi karena ladang initidak dapat ditanami karena berbatu dan runcing (dangka) makaterkenal namanya yaituDangke k, yang akhirnya menjadi namajorong.

Setelah itu nenek moyang orang Kapau juga sepakat untukmembuat kebun bersama ke luar kampung Koto itu, yaitu dijorong Parang Maru sekarang ini. Asalnya Parak Baru (parakjolong ada). Begitu pula jorong Koto Panjang berasal darimenebas semak belukar. Anak keponakan makin ramai makaditebas lagi hutan, maka dinamai kampung itu PandanBacantiang—yang berasal dari kata santiang (bagus) dan ada juga yang menyebut berasal cari alat peragi kain canting. Berturut-turut dibangun kampung Induriang yang berasal darinama kayu during. Karena tempatnya di ketinggian makabernamalah kampung Guguak Induriang. Penebasan lahan diteruskan ke wilayah yang banyak pandannya maka bernamalah kapung Pandan Banyak.

Setelah kampung didiami, sudah ada Koto, Taratak, maka dibuat parit-parit ditanam aur berduri, akan menjadi pagar bernagari. Untuk mencukupi syarat suatu Nagari; sudahberumah, bertangga, balabuah (jalan), batapian tampek mandi (MCK), maka didirikan pulai suati balai (pasat) di tengah Nagari Kapau, sampai sekatang bernama Tangah rang Kapau(disebut juga Baruah Balai antara kampung Koto Panjang Hilirdengan kampung Padang Cantiang.

Sementara itu mesjid nagari berdiri di kampung Induriang Balai Tangah rang Kapau, gobah di kampung Koto, tempatberapat 6 (enam) suku, 6 (enam) pulo batu balega kedudukanPenghulu 6 Suku. Taratak menjadi Koto, kemudian menjadidusun dan kemudian menjadi nagari. Maka lengkaplah sudahdan jadilah Nagari, yang bernama Nagari Kapau. Mengambilkeasalan dari nama tempatbernama sebelum turun ke Kapauini, adalah Kapau di batas Agam-Tanah Datar dekat NagariTanjung Alam, di tempat tumbuhnya batang kayu bernamaBukit Kapau.

Berbagai keistimewaan

Anak Nagari Kapau juga mempunyai beberapa keistimewaan diantaranya suka merantau.Ke semenajung Malaka (sekarangMalaysia), sudah dirintis sejak tahun 1912. Dari cerita yangdiwariskan, masa itu belum ada angkutan umum. Orang yangmerintis pertamamerantau ke Malaysiatahun 1912 itu adadua orang; masing-masing bernama H. Abas dan H.Mohammad Rahmani. Keduanya merantau ke Seremban,Negeri Sembilan. Mereka waktu ituberjalan kaki, naik perahuserta angkutan tradisional pedati. Dari Kapau ke Pekanbaru adasekitar 200 km. Kemudian naik kapal melalui sungai Siak danterus ke Malaysia.

Maka pada awal-awalnya dahuluorang kapau pergimerantau ke Malaysia dengan berbekal kepandaian membuatpeci. Akhirnya kepandaian ini berkembang. Sehingga padaberbagai kotadi Malaysia ditemukan orang Kapau membuatpeci. Dan memang pada awalnya dahulu tukang peci punyakedai jahit. Usahaitu sangat laris antara tahun 1920-an, 1930-an dan 1940- an. Banyak orang Kapau yang kaya dengan usahapeci ini.

Setelah tahun 1950, apalagi setelah Malaysia Merdeka 1957,negeri ini sudah makin maju, orang sudah kurang membelipeci. Maka orang Kapau mengganti usahanya dengan jualannasi, sehingga disemua negri, mulai dari Alhosta sampai keJohor orang Kapau menjual nasi—begitu juga di Perak,Kangsar, Kualalumpur, Johor, Kajang. Pokoknya seluruh kota ada orang Kapau jual nasi dan kedai minuman dan makanan. Khusus di Jakarta Yayasan Perantau Kapau Jakarta dan Bandung telah berhasil mempatenkan Nasi Kapau dengan AgnoJ 95-8351/94yang dikeluarkan Dirjen Hak Cipta, Paten dan Merek 12 September 1996.

Kembali pada peratau Kapau di Malaysia, pada jual nasi kapaulah orang Kapau mulai menyekolahkan anaknya.Sehingga tahun 1960-an -1962 sudah ada dokter orang Kapau..Keistimewaan lain dari Anak Nagari Kapau adalah, dibawahkepemimpinan penghulu dan ulamanya dalam pembangunansudah terlihat sejak 184 tahun lalu.Pada masa Perang Padri(1821), nagari Kapau telah memperlihatkan betapa keyakinanterhadap Tuhan Yang Maha Esa, sehingga rela mengorbankanjiwanya untuk mempertahankan agama Islam dari tantangankaum penjajah waktu itu. Seorang ulama besar, Tuanku Bansa(Tuanku Mensiang) gugur dalam perperangan. Dimakamkanditempat gugurnya karena orang takut mengangkat jenazahnyayang dianggap suci itu.

Di zaman revolusi fisik Nagari Kapau berada di front terdepan dalam penyediaan makan berupa nasi bungkus bagi pejuang RI, sesuai dengan taktik perang gerilya. Setiap tentara Republik bergerak ke Bukittinggi, di Kapau disambut dengan nasi bungkus dan juga bekal untuk makan keesokan harinya. Bila Belanda mencium kejadian itu, mereka tidak segan-segan membumihanguskan rumah penduduk.

Sumber:
1) wawancara dengan Wali Nagari Kapau MasnirRasyidin
2) wawancara dengan pemuka masyarat Kapau diPadang, serta
3) diangkat buku “Kapau Nagari Kito”

 

SEJARAH RINGKAS BERDIRINYA MTI KAPAU

            Pada tahun 1929 di nagari Kapau diadakan musyawarah antara beberapa tokoh masyarakat dengan pimpinan nagari yang menghasilkan keputusan akan mendirikan Sekolah Agama yang bertempat di Pandam Basasak Kenagarian Kapau. Alhamdulillah pada waktu itu dengan usaha yang gigih para tokoh tersebut berdirilah sekolah agama dengan 7 (tujuh) ruang belajar. Pelopornya adalah Hamzah Dt.Batuah yang menjabat Kepala Nagari (1913-1931) dan dibantu oleh Inyik Syech Abdurrahman, Dt.Sajatino, Haji Abbas Chatib, Dt.Malano, Haji Muhammad Amin, Yang Basa Tuo dan lain-lain.
            Atas inisiatif beliau-beliau itulah sehingga pada tanggal 28 Juli 1929 diresmikanlah pembukaan sekolah ini oleh Inyik Syech Sulaiman Ar-Rasuly (Inyik Candung)  dan diberi nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah ( MTI ) dengan lama belajar 7 tahun. Dikepalai oleh Buya H.Muhammad Nur Tuanku Mudo dengan guru-guru seperti Abdul Salam Malin Saidi, Haji Gazali, Ramli Tuanku Muhammad, Haji Sjarbaini, Dt.Doto Basa, Rasjidin Kari Bagindo, Malin Kayo dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Beliau semua telah mengorbankan tenaga dan pikiran untuk mengajar secara sukarela.
            Dalam meningkatkan dana sekolah sebanyak-banyaknya maka diadakan wadah Wirid Pengajian sekali seminggu yang disponsori oleh Inyik Syech Abbas Qadhi dari Bukittinggi. Demikianlah sekolah ini berjalan dari masa ke masa dengan baik dan pada tahun 1942 sekolah telah memberikan ijazah kepada murid-murid sebanyak 40 (empat puluh) orang.
            Setelah zaman kemerdekaan sekolah tidak luput dari pasang surut dan maju mundurnya sampai pada masa pergolakan daerah PRRI tahun 1957, hingga akhirnya sekolah yang menjadi kebanggaan masyarakat Kapau ditutup sama sekali pada tahun 1958 sampai tahun 1975.
            Kemudian dari itu pengurus yang selama ini tidak bekerja lagi kembali mengadakan rapat untuk membentuk pengurus baru yang akan bekerja keras dan gigih dan dengan menghimpun suatu kekuatan untuk kembali “Mambangkik Batang Tarandam”. Maka pada tahun 1975 Pengurus baru pun terbentuk  yang dipimpin oleh Syech Rasjidin Kari Bagindo (Inyik Chatib) dan memberi kepercayaan kepada Ustadz Zul’aidi Ml.St.Alamsyah,BA sebagai Kepala Sekolah. Kemudian setelah itu sekolah secara berturut-turut  dipimpin oleh Ustadz-ustadz : Suardi. AM, BA (1980-1989), Drs.H.Zul’aidi Ml.St.Alamsyah (1989-1993), Drs.A.Malik Rahman (1993-1996), Drs.Bachtiar Tandjung (1996-1999) Drs.Muhammad Yarnani (1999-2005) Drs. A.K.Dt.Nankodoh Rajo (2005-2007), Drs. Abbas H.I (2007-2010) dan Drs. Marjohan, M.Pd (2010-Sekarang)
            Pada tahun 1989 setelah wafatnya Buya Rasjidin Kari Bagindo (1986), pengurus dipimpin oleh H.Hashuda Dt.Madjo Nan Tuo (Ketua I), H.D.S Mangkuto (Ketua II) dan Aminuddin Dt.Bagindo Basa (Ketua III). Kemudian tanggal 18 Mei 1998 (akta Notaris Yulfaisal, SH Nomor: 10) didirikan Yayasan MTI Kapau oleh para pendiri yaitu: Aminuddin Dt.Bagindo Basa, Haji Muhammad Noer Amin, Haji Daiman St.Mangkuto, Haji Firdaus Efendi, A.H, Umi Aisyah dan Ibuk Sabidar. Sesuai Akta Yayasan maka Badan Pengurus dipimpin oleh Aminuddin Dt.Bagindo Basa sebagai Ketua Umum sampai beliau wafat tanggal 22 Mei 2000 dan kemudian dipimpin oleh H.M.Noer Amin St.Mangkuto sampai beliau wafat tanggal 10 November 2003. 
Kemudian   Pengurus Yayasan  MTI   Kapau dipimpin Ketua Umum yaitu  Yendraldi, S.Pd  ( 2004-2009) dan  Drs. H.Zuiyen Rais, MS sebagai Ketua Badan Pendiri Yayasan. Sekarang Ketua Umum Yayasan MTI Kapau adalah Drs.Yefferson, SH,MA Dt.Lurah dan Drs. H.Zuiyen Rais, MS sebagai Ketua Pembina Yayasan untuk periode 2009-2014. Pimpinan Pondok Drs. Marjohan, M.Pd, Wakil Kepala Bidang Pendidikan Zaituni, S.Ag, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Safrinal, SHI dan Wakil Kepala Bidang Humas Dukman Khatib Bandaro.
Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah Kapau terdiri atas dua tingkatan yaitu tingkat Tsanawiyah dan tingkat Aliyah. Untuk Tingkat Tsanawiyah pada tahun 1997 telah diberikan akreditasi Status Diakui dan tingkat Aliyah Status Terdaftar. Sejak dibangun kembali tahun 1975, MTI Kapau telah berkembang baik dari segi kualitas maupun kuantitas, terutama Pimpinan dan Guru-guru yang berpengalaman dan ditunjang sarana dan prasarana yang cukup memadai. MTI Kapau juga telah menamatkan ribuan murid yang sebahagian besar melanjutkan ke Perguruan Tinggi dan banyak yang telah berhasil di segala bidang.

  PENDIDIKAN OPSIR DIVISI BANTENG

Gagasan untuk menyelenggarakan pendidikan militer di Sumatra Barat sudahmuncul ketika Ismael Lengah menjadi Ketua *Balai Penerangan Pemuda Indonesia(BPPI) pada awal proklamasi 1945. Untuk menghadapi kemungkinan terjadinya perang dengan pihak Belanda diperlukan tenaga-tenaga militer yang terdidik danterlatih baik. Terutama untuk eselon pimpinan. Semangat para pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan memang tinggi, tetapi pada umumnya mereka belum pernah mengalami pendidikan militer.Ismael Lengah diminta oleh Kolonel Dahlan Djambek agar bersedia menjadiKomandan Resimen 3 di Padang. Ismael Lengah bersedia dengan syarat ia diizinkanmerealisasikan gagasannya untuk menyelenggarakan pendidikan militer. Iameyakinkan Dahlan Djambek perlunya menyiapkan kader-kader yang berkualitassebagai pengganti perwira yang ada, jika sewaktu-waktu mereka meninggalkan arena perjuangan.Menurut Ismael Lengah, dalam perang bukan diperlukan semangat, tetapi juga pemimpin yang mampu berpikir secara rasional, mampu bertindak cepat danmemilikidisiplin serta keahlian. Dahlan Djambek menyatakan kesediaannya. Gagasandiangkat ke tingkat Divisi. Pendidikan dan latihan itulah yang kelak dikenal dengannama Pendidikan Opsir Divisi Banteng.
Sebagai Komandan Resimen, Ismael Lengah mulai menyusun rencana yang lebihkonkrit. Tempat pendidikan ditetapkan Bukittinggi, sebab kota itu tempat kedudukanDivisi. Fasilitas untuk pendidikan militer dianggap cukup tersedia. Bukittinggiterletak di pedalaman, cukup jauh dari serangan mendadak dari Padang, gangguanterhadap kelancaran pendidikan relatif kecil.Panggilan terhadap calon lebih banyak dilakukan melalui pemberitaan lisan,dibanding media massa seperti radio dan surat kabar. Calon yang akan mengikutilatihan diharapkan dari kalangan pelajar sekolah menengah. Ternyata pendaftar sangat besar, bahkan sebagian besar berpendidikan yang lebih rendah.Sileksi dilakukan melalui test fisik, kesehatan dan pengetahuan umum sertasemangat. Tim kesehatan diketuai Let. Kol. Nazaruddin; pengetahuan umum olehTim Mayor Laut Sulaiman dibantu Komisaris Raden Djojo dari Kepolisian.Test fisik dilakukan calon dengan berlari mengelilingi kota Bukittinggi. Lebihseperdua tidak berhasil mencapai garis finish dan mereka dinyatakan gugur. Calonyang lulus test fisik mengikuti test pengetahuan umum dan semangat. Kemudianmereka dikumpulkan mereka mengikuti test kesehatan di Rumah Sakit pimpinan dr. Nazaruddin dan dr. Hasan Sadikin. Terakhir wawancara dengan Ismael Lengah bersifat menjajagi mental mereka untuk masuk pendidikan militer.Calon yang diterima pada umumnya pelajar yang pernah mengikuti MULO(setingkat SLTP), AMS (setingkat SMA), HBS (pendidikan guru), dan SekolahThawalib. Ada yang berpendidikan lebih rendah, namun mereka yang telah mengikutilatihan Gyu Gun ataupun latihan Seinendan dan Kaibodan di zaman Jepang.Dalam pidato pembukaan Ismael Lengah menantang dan menguji ketahananmental dan menggugah semangat para calon. "Mungkin tidak semua kamu akansanggup mengikuti latihan yang bakal keras dan kasar ini. Apalagi kamu manusia biasa. Kamu di sini disiapkan untuk perang, untuk berontak, untuk merdeka….. tidak untuk lain-lain."Yang lulus test berjumlah 96 orang. Pada tanggal 17 Februari 1946dilangsungkan pembukaan resmi oleh Komandan Divisi III, Kol. Dahlan Djambek.Lembaga pendidikan tersebut dikenal dengan nama Pendidikan Opsir Divisi Banteng Sumatra Tengah

sebagai Militer Akademi Perjuangan seperti halnya diYogyakarta dan Tangerang.Ismael Lengah diangkat sebagai Kepala Sekolah dan Mayor Munir Talu sebagaiWakil Kepala Sekolah, juga memberikan pelajaran taktik militer. Pelatih terdiri dariLettu Rasyid, Lettu Kamal Mustafa dan Lettu Syu'ib yang semuanya berpendidikanMinarai Sikan (kadet Gyu Gun), memberikan pendidikan latihan fisik dan pertempuran yang dititikberatkan pada perang gerilya dibantu Sersan MayoBaharuddin, Sersan Zakaria, Sersan Ali Amran, Sersan Maaruf, Kopral M. Sirin,Kopral Ilyas, dan Kopral Rusli.Beberapa kali terjadi perubahan pelatih, karena terjadi mutasi dan sebagainya.Pendidikan dan latihan berorientasi kepada pendidikan dan latihan angkatan daratJepang (Nippon Rikugun) dengan penekanan semangat dalam hal yang praktis.Ditambah dengan latihan menurut sistem Belanda. Sasaran yang ingin dicapai ialahmenciptakan perwira setingkat Shodantyo dalam tentara Pembela Tanah Air (Peta) diJawa atau Shotaityo dalam kesatuan Gyu Gun di Sumatra, mata pelajaran kemiliterandan non militer.Pendidikan berlangsung dua tahap
 .
Latihan tahap pertama, latihan fisi berlangsung selama tiga bulan penuh. Latihan berlangsung siang dan malam, berat dan keras. Mata pelajaran yang diberikan adalah: Pertempuran, meliputi:latihan dasar perseorangan, latihan perang berkelompok (regu,seksi/peleton dankompi; perang malam serangan dengan darah dan daging terhadap tank, truk dan
bangunan, perang gerilya.) dan Pengetahuan senjata ringan, senapan mesin,senjata berat (senapan mesin berat, meriam dan mortir. Latihan kesatuan kecil,tentang ilmu medan (peta dan kompas) dan organisasi militer.Latihan jasmani, bela diri: silat senam militer dan halang rintang. Pengetahuan umum: urusandalam, ideologi negara, soal kepolisian, hukum/tatanegara, kesehatan,administrasi dan Ceramah agama, cerita kepahlawanan, sejarah perjuangan bangsa, ceramah meningkatkan semangat dan disiplin.
Selama bulan pertama siswa tidak boleh meninggalkan asrama. Latihan siang danmalam, berjemur di panas terik matahari, malam di tengah hawa dingin kota pergunungan Bukittinggi, dalam keadaan perut keroncongan. Setelah sebulan, calon berhak memakai pangkat prajurit satu. Sudah itu mereka boleh keluar asrama danmemperoleh pengalaman baru namun meletihkan. Kepada setiap tentara yang ditemuimereka harus memberi hormat.Pada akhir bulan kedua sejumlah kadet dikirim ke front utara (Pasar Usang) untuk memberi bantuan melatih prajurit baru. Pangkat mereka dinaikkan jadi kopral akhir  bulan kedua dan sersan akhir bulan ketiga. "Tidak semua kadet tahan menjalanilatihan berat dan dikatakan tidak beri kemanusiaan", menurut Taswar Akip kadetangkatan kedua.
Latihan tahap kedua
, diikuti 84 orang dan yang bertahan mengikuti latihan dari96 kadet tahap pertama. 60 orang kadet dilantik jadi Opsir Muda, 16 orang menjadiSersan Mayor kadet dan 8 orang Sersan kadet. Mereka dikirim ke kesatuan tingkat batalyon mengikuti praktek lapangan mengenal kehidupan militer secara nyata dan bentuk sesungguhnya, tinggal di asrama yang lebih buruk, secara langsung berhadapan dengan situasi perang sekitar kota Padang. Namun mereka mengalamikehidupan yang lebih baik, makan teratur di dapur umum dan mendapat pelayanankesehatan bagi mereka yang luka oleh palang merah remaja. Mereka memperoleh pengalaman, perang kemerdekaan adalah perang seluruh rakyat. Selama tiga bulan, para kadet memperbaiki disiplin dan menyesuaikan diri, mutu pasukan. Kadet yangtinggal di kesatuan di daerah jauh menderita, baik makanan maupun tempat tinggal.
Latihan tahap ketiga,
kembali berkumpul di asrama Bukit Apit mendiskusikan pengalaman. Terakhir kadet ke front Padang Timur yang di pusatkan di Kuranji.Kadet menghadapi perang sesungguhnya dipimpin Kapten Sjoe'ib. Pendidikanterakhir siswa kadet harus menyamar dan menyelusup ke dalam kota Padang, suatutugas yang sangat berbahaya, karena Belanda mendirikan beberapa titik pengam atan

keluar masuk kota. Kadet harus berkumpul kembali sebelum pukul 18.00 di Kuranji.Ternyata ada beberapa orang yang terlambat. Ketika mereka akan kembali, Belandamelakukan razia dan penggeledahan karena mendapat informasi ada perwira TNIyang menyusup ke dalam kota. Mereka memutuskan bersembunyi di rumah seorangCina yang membantu perjuangan. Ternyata Belanda datang ke rumah Cina tersebut.Setelah Belanda pergi, mereka diberi petunjuk menyelamatkan diri dan akhirnyasampai di Kuranji. Akibatnya seluruh kadet dapat hukuman tidak boleh tidur danmakan sebelum pukul 01.00. Mereka yang terlambat pun dapat hukuman juga,meskipun Kapten Sjoeib pun bertanggung jawab atas mereka. Latihan di front berlangsung selama 1,5 bulan dan kemudian mereka diperintah pula melatih prajuritdi belakang front di Lubuk Silasih selama 1,5 bulan. Pendidikan angkatan pertama berakhir pada tanggal 10 Nopember 19467 dan dilantik 84 orang kadet olehKomandan Tentara dan Teritorial Sumatra, Mayor Jendral Suhardjo Hardjowardojosebagai Letnan Dua, Pembantu Letnan dan Sersan Mayor.Latihan Angkatan kedua diikuti 68 peserta. Beberapa kelemahan angkatan pertama, diperbaiki pada beberapa hal. Latihan dasar sama dengan angkatan pertamaAngkatan kedua dibagi atas sektor-sektor dan ditempatkan pada batalyon KemalMustafa. Di daerah ini sering terjadi kontak dengan Belanda. Kadet memang dilatihdalam ketahanan mental, keberanian, dan disiplin yang tinggi. Sewaktu kadet bertugas di Front Utara ini, gerombolan PKI mengadakan kekacauan di daerahSungai Limau, Tiku dan Kampung Dalam. Kadet diikutsertakan dalam operasi pemberantasan. Akhir pendidikan diadakan latihan mental dengan mengambil kertasdi bawah mayat korban petempuran. Terjadi peristiwa yang menyeramkan, ketikasibuk mencari nama di bawah mayat bergerak dan memandang kepada seorang kadet.Ternyata mayat tersebut masih hidup.Akhir pendidikan 60 orang mengikuti latihan sampai selesai. tetapi mereka tidak sempat dilantik menjadi perwira. Namun selama Agresi Belanda kedua, merekamenjalankan tugas dengan baik.Pada masa konsolidasi tahun 1950, sebagian kadet telah berpangkat Letnan Dua.Pendidikan kedua angkatan menghasilkan 144 orang ditempatkan pada kesatuan-kesatuan Divisi IX Banteng. Selama 8 bulan selesai pendidikan beberapa orangmemperlihatkan kemampuan dan prestasi, dan dinaikkan pangkatnya menjadi LetnanSatu. Dalam menjalankan tugas, para lulusan Pendidikan Opsir menjadi suri teladananggota kesatuan tempat mereka bertugas. Banyak di antara mereka menjadi pelatih
 pada kesatuan-kesatuan mereka ditempatkan. Peranan kadet selama Agresi kedua,memimpin pasukan-pasukan di front., baik di Sumatra Barat, maupun di Riau.Sesudah perang kemerdekaan berakhir, Divisi IX Banteng diciutkan. Ada yangmengundurkan diri dari dinas ketentaraan, ada yang dipindahkan kesatuan lain danada pula mendapat pendididikan lanjutan, seperti Pendidikan Pelatih Infantri (SPI),Pendidikan Artileri, Pendidikan Polisi Militer, Pendidikan Corps Intendans AngkatanDarat (CIAD). Ada kadet yang mencapai perwira tinggi dan diplomat (May.Jen Nasrun Syahrun,SH, May Jen Durmawel, SH}, Hakim Agung (Brigadir JendralSyafiar, SH, Danny,SH), anggota DPR Kol. Imran, Nurdin Yasin), Bupati (Taswar Akib dan Jamaris Yunus, Burhanuddin Putih, Sulaiman Zulhudi). 


Pada tahun 1958 di daerah Sumatra Barat dan Riau meletus pemberontakan PRRI,sebagian kadet yang bertugas pada KDMST (Komando Daerah Militer SumatraTengah), ikut terlibat. Ada di antaranya tewas dalam pertempuran. Sesudah pemerintah memberikan amnesti dan abolisi, mereka dipensiunkan.


Sumber:
Peringatan Hari Jadi ke-40 (17 Februari 1946 - 17 Februari 1986),
 Pendidikan Opsir DivisiIX Banteng

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar