Sabtu, 23 Maret 2013

Perilaku Elegan Dalam Berpolitik




Oleh : Zulfadli, SH, MK


Sekali lagi saya ingin berbicara politik, karena politik itu walau bagaimanapun tidak dapat dipisahkan dengan hidup kita, ini yang perlu kita garis bawahi. Hidup kita sangat erat kaitannya dengan politik. Kita hidup di suatu negara dimana di negara itu ada yang memerintah disebut dengan pemerintah, orangnya disebut pemimpin atau kepala pemerintahan, pemerintah tentu memerintah kita supaya mengikuti apa yang diperintahkannya berdasarkan peraturan yang berlaku.

Pemimpin itu bukan pelayan yang bisa kita atur sedemikian rupa tapi dia mengatur hidup kita dengan menjalankan berbagai macam aturan. Pemimpin itu jabatan yang terhormat sepanjang dia menjalankan amanah dengan baik. Dia dipilih karena mempunyai kelebihan, kecerdasan dan sebagainya. Kita diikat dengan aturan dan kita harus mentaati aturan itu, mau tidak mau dan suka tidak suka. Kalau melanggar aturan tentu kita dianggap menentang pemerintah dan bisa ditangkap dan diadili.

Misalnya  ketika kita berkendaraan apakah pakai mobil atau sepeda motor maka kita harus berjalan di sebelah kiri, cobalah kita melanggar aturan itu sekali saja dengan berkendara di sebelah kanan, tentu kita akan bertabrakan dengan kendaraan di depan kita yang berlawanan arah. Kemudian kita wajib membayar pajak kendaraan tapi kita tidak mau membayar pajak, pasti kita tidak berani keluar berkendara dan timbul was-was jangan-jangan ada razia, tentu ini merepotkan kita dan kita tidak menjadi bebas pergi kemana saja. Kita tidak boleh buang sampah sembarangan tapi kita melanggarnya dengan membuang sampah sembarangan, sehingga saluran air tersumbat maka terjadilah banjir yang mencelakai kita dan sanak keluarga kita.

Jelaslah bagi kita bahwa aturan yang ada itu tidak lain dan tidak bukan untuk kepentingan kita sendiri serta kepentingan bersama. Agar kita menjadi aman tenteram dan tidak terjadi hal-hal yang merugikan diri kita. Karena suatu aturan tidak mungkin akan mencelakakan kita apabila kita berjalan menurut aturan atau sistem yang berlaku tersebut.

Banyak orang bersikeras tidak suka berpolitik, benci dan muak dengan politik, politik itu kotor katanya, tapi disamping itu dia tetap mematuhi dan mengikuti aturan perundang-undangan yang berlaku dan itu merupakan produk politik, para pemimpin adalah produk politik, yang dihasilkan melalui proses politik, meskipun diakui secara terpaksa atau tidak. Jadi terjadi sesuatu hal yang paradoks atau bertentangan antara keinginan dengan kenyataan. Ada pula orang yang ketika pesta demokrasi memilih golput atau golongan putih, sama sekali tidak ikut memilih seorang pemimpin karena ketidaksukaan atau kebencian, padahal setelah itu dia ikut menikmati hasil dari kepemimpinan yang dia tidak sukai. Bukankah ini sesuatu yang sangat aneh dan membingungkan.

Agama Islam tidak hanya mengatur bagaimana hubungan seorang hamba dengan Tuhannya tapi juga mengatur bagaimana berpolitik yang baik, menjadi umat yang baik, mentaati para pemimpin sepanjang dijalan yang benar dan para pemimpin melaksanakan kepemimpinan dengan baik pula. Islam itu ajaran yang sempurna dan sangat kompleks dalam mengatur seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan agama dipolitisasi untuk kepentingan politik, tidak, tapi agama menjadi dasar dan sandaran dalam berpolitik.

Jadi politik itu dapat dikatakan cara yang dikemas dengan cantik dan elegan untuk dapat menyampaikan agama itu kepada umat, mengajak umat itu taat kepada ajaran agamanya, apabila dia taat kepada agama maka perilakunya otomatis akan baik, memiliki akhlakul karimah dalam berinteraksi dengan sesama.

Politik itu bisa kotor ketika orang-orang yang ada di dalamnya bermain kotor, politik itu akan bersih bila orang-orangnya bersih. Tergantung bagi kita bagaimana menyikapinya, kalau kita merasa bersih dan merasa baik maka ikutlah berperan dalam politik dan bersihkan apa yang terasa kotor selama ini di dalam politik. Maka itulah sebabnya orang yang punya nyali dan keberanian maka dia akan menegakkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Kita mengetahui selama ini sebagian orang lebih suka berteriak di luar sistem bagaimana kebobrokan perpolitikan di negara kita. Tapi hanya ibarat berteriak di sebuah goa yang kedengaran hanya gema suaranya saja. Ibarat menyapu rumah yang kotor maka kita harus masuk ke dalam rumah untuk menyapunya, tidak bisa kita diluar saja dan menunggu rumah itu bersih dengan sendirinya, bukankah itu sesuatu yang mustahil?. Dalam arti kata kita mesti ikut berpolitik kalau kita merasa politik itu kotor dan perlu dibersihkan, inilah yang realistis.

Secara gamblangnya dapat digambarkan, apabila kita menganggap negara ini kotor dan perlu dibersihkan, maka berpolitiklah melalui partai politik dan tunjukkan kepada konstituen bahwa kita mempunyai niat yang tulus untuk menjadi pemimpin nantinya, anggaplah partai sebagai kendaraan politik sebagai miniatur negara yang akan kita pimpin. Tapi harus diingat kita berjuang secara bersama dengan teman atau kolega dan tidak bisa sendiri-sendiri. Tentu harus menampilkan diri sebaik mungkin tanpa cacat sedikit pun dan pandai-pandai mengambil hati rakyat. Harus jujur kepada rakyat dan kepada diri sendiri. Maka mudah-mudahan konstituen atau rakyat memberikan dukungan dan merasa simpati serta memberikan kemenangan di kemudian hari untuk seseorang menjadi pemimpin. Tetapi kalau kita berjalan sendiri dan menganggap perjuangan kita benar sendiri dengan cap independen tanpa mau menumpang kapal besar yang namanya partai politik maka tipis harapan cita-cita kita akan tercapai, karena sudah banyak contoh yang tentu tidak perlu diungkapkan disini.

Dalam konteks ini saya tidak ingin menggiring opini pembaca agar masuk ke dunia politik atau memilih salah satu partai yang dipercayai dalam pemilu, tapi mari kita lihat dan pelajari semua partai yang ada secara lebih lengkap dan utuh, barulah kemudian kita membuat suatu kesimpulan partai mana yang memenuhi kriteria kita sebagai pilihan.

Diawal berdirinya negara kita rakyat sudah mengenal partai sebagai kendaraan politik, bahkan sebelum kemerdekaan meskipun akhirnya dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda. Barulah setelah kemerdekaan berbagai kelompok berlomba-lomba mendirikan partai politik yang tujuannya tidak lain sebagai suatu cara mengisi kemerdekaan yang telah diraih. Kemudian partai-partai ini ibarat berdagang mereka menjual dagangannya kepada rakyat, sehingga rakyatlah yang memilih mana yang mengakar ditengah publik. Dan tokoh-tokoh yang terpilih inilah yang menjadi pemimpin-pemimpin dan negarawan-negarawan. Mereka tidak lagi berbicara partai dan mementingkan kepentingan partai tapi sudah berbicara kepentingan rakyat banyak yang diwakilinya, mereka tidak lagi berada dalam struktur partai tapi menyerahkan kepemimpinan kepada kader yang lain, inilah etikanya. Inilah yang susah kita praktekkan di negara kita dewasa ini, jarang sekarang ini partai politik memberikan pendidikan politik yang elegan seperti ini.

Jadi perlu ditegaskan untuk kita semua, kenali partai, pelajari, setelah itu nilai, kemudian baru memutuskan mana yang paling baik. Tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Jangan kita terlalu idealis dan terlalu berharap diluar kemampuan yang ada, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi kita harus kritis menyikapi setiap persoalan untuk menuju kepada perbaikan. Setiap ada persoalan hukum maka mari kita serahkan kepada yang berwenang, tidak ada yang kebal hukum meskipun penegak hukum itu sendiri. Dan yang terpenting adalah kita menyadari bahwa kita telah berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara ini, meskipun itu hanya sedikit.

Alangkah indahnya politik itu apabila aktor-aktor yang ada didalamnya diisi oleh pribadi-pribadi bersih, taat dan saleh. Sehingga semakin tumbuh kepercayaan rakyat dan dengan penuh kesadaran rakyat akan dengan senang hati ikut berpartisipasi dalam melaksanakan hak dan kewajibannya dalam mendukung kebijakan-kebijakan berbangsa dan bernegara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar