Rabu, 12 Desember 2012

PECUNDANG





Kalah, apa itu kalah, kalah lawannya adalah menang, semua orang pasti ingin menang dan tidak satupun yang mau kalah, Saudaraku. Kekalahan dan kemenangan pasti datang silih berganti dalam kehidupan seseorang, meskipun kemenangan dapat diraih dan akan sudi mampir, begitu juga kekalahan pasti telah dan akan menghampiri seseorang. Sekali lagi tentang kalah dan kekalahan, ada yang mampu bangkit setelah mengalami kekalahan dan berhasil menang, tapi tidak jarang yang gagal sehingga terus terpuruk sebagai orang yang kalah. 

Apakah anda pernah mengalami kekalahan?, bagaimana perasaan anda? tentu bermacam-macam. Tidak mungkin orang selalu menang, dan tidak mungkin pula orang selalu kalah. Kalah dan menang akan datang silih berganti. Ketika kalah sadarilah bahwa anda pernah menang sehingga anda tidak perlu putus asa dan rendah diri, ketika menang insyafilah bahwa suatu saat anda pernah kalah sehingga anda tidak usah menyombongkan diri dan tinggi hati.

Kekalahan yang dialami oleh seseorang dalam aspek apapun pada umumnya memang menyakitkan dan kadangkala sulit untuk diterima oleh orang tersebut dengan dada yang lapang. Tentulah anda dapat menjawabnya apabila mengalaminya sendiri. Karena secara fitrahnya manusia itu ingin menang dan tentu saja tidak mau kalah. Tapi Allah selalu menjadikan serba dua, ada kalah dan ada menang, ada malam dan ada siang, begitulah seterusnya.

Ketika mengalami kekalahan sebagian orang merasa malu, pahit, tertekan, bahkan kadangkala dia menganggap itu adalah sesuatu yang salah. Tetapi tentu saja tidak demikian bagi orang yang mempunyai kekuatan mental yang kuat, kepercayaan diri yang tinggi dan terutama apakah ia mempunyai iman atau tidak. Orang yang seperti ini tidak mengenal kata menyerah dan putus asa, dia bertekad bahwa suatu saat dia akan mampu menjadi pemenang yang sesungguhnya karena dia beranggapan ”kekalahan adalah kemenangan yang tertunda”. Tapi sebagian lagi berusaha tegar dan melupakan segala yang telah berlalu.

Dalam suatu pertandingan, perlombaan dan kompetisi apapun dalam kehidupan ini, kemenangan adalah dambaan setiap orang karena itu adalah suatu prestasi disamping ada yang menganggap itu adalah juga prestise. Tapi tentu saja tidak semua orang akan menang. Memang beruntung orang yang menang tapi bagi yang kalah tidak perlu berkecil hati. Saya adalah orang yang mengalami bagaimana merasakan suatu kekalahan, mengalami yang namanya pecundang, pada awalnya memang sangat berat menerimanya, merasa sedih, merasa terpukul. Tapi lama kelamaan saya berusaha menguatkan diri dengan satu cara yaitu ikhlas menerima kekalahan dalam suatu pertempuran.

Kekalahan saya dalam pertempuran bukan yang sesungguhnya layaknya bertempur berhadapan dengan musuh, tetapi bertempur untuk merebut suatu tempat ”terhormat” menjadi orang nomor satu di daerah saya. Boleh dikatakan suatu kompetisi merebut simpati masyarakat atau rakyat agar dipilih oleh rakyat sebagai pemimpin atau orang yang didahulukan selangkah ditinggikan seranting. Tapi kenyataannya bukan saya yang terpilih, tapi orang lain yang menjadi saingan saya yang menang. Itulah kenyataannya, memang pada awalnya berat menghadapi kekalahan tapi akhirnya saya sadar mungkin itulah yang terbaik yang ditakdirkan oleh Allah Swt. Mungkin dibalik itu ada suatu hikmah dan rahasia yang pasti hanya Allah yang tahu.

Belajar dari kekalahan tersebut saya juga akhirnya sadar dan yakin bahwa mungkin ada secuil ambisi dalam diri saya, meskipun saya mengakui bahwa bersedianya saya ikut dalam kompetisi tersebut adalah karena dukungan sebagian masyarakat. Tetapi saya baru paham sebagian dukungan yang saya terima hanyalah kepalsuan belaka. Dan seumur hidup, saya tidak akan lupa siapa yang mendukung saya dengan penuh kepalsuan, karena terbukti mereka tidak peduli dengan kekalahan yang saya derita bahkan jangankan melihat, memandang sebelah mata saja tidak ada lagi kepada saya, begitulah perumpamaannya. Tapi saya mencatat hanya ada satu orang pendukung yang begitu peduli dan memberikan kesabaran serta membesarkan hati saya, saya mengucapkan terimakasih kepada beliau. Begitulah oleh karena saya salah dalam membaca situasi dan kondisi sehingga mengakibatkan sesuatu yang tidak diharapkan.

Tapi walau bagaimanapun mulai saat itu saya bertekad cukuplah sekali dalam hidup saya berpartisipasi dalam hal tersebut di atas dan sejarah akan mencatat sampai ke anak cucu, itu adalah kebanggaan tersendiri bagi saya. Dan saya akan menjadikannya sebagai suatu pelajaran yang sangat berharga dalam hidup saya, meskipun kekalahan adalah kemenangan yang tertunda tapi saya sudah berketetapan hati bahwa itu sudah cukup. Karena pengabdian bukan hanya melalui jalan itu saja tapi banyak jalan lain dan banyak cara lain yang dapat kita tempuh dalam memberikan sedikit sumbangsih dan kepedulian kepada masyarakat, tapi bukan karena maksud-maksud lain tapi karena mengharapkan keridaan Allah Swt. Amin. (13/12/2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar