Selasa, 13 Oktober 2015

Mengingat Mati




Oleh: Zulfadli Aminuddin

“…Allah jadikan kita untuk ibadah, sudahkah kita melakukannya
Mengapa kita menangguh-nangguhkan, sedangkan kematian tiada terduga…”

Syair nasyid di atas mengisyaratkan kepada kita untuk ingat kepada kematian, ingat kepada maut yang sewaktu-waktu pasti akan menemui kita, memisahkan manusia dari gemerlapnya kehidupan dunia.

Kita tidak perlu memikirkan maut yang akan menjemput kita, karena pasti akan terjadi. Tapi yang perlu kita pikirkan adalah siapkah kita menghadapi maut, dalam arti kata apakah kita akan mati secara baik atau tidak.

Setiap waktu kita kita mendengar berita kematian, banyak sebab kematian seseorang. Ada orang yang mati karena sakit, ada yang mati tanpa sebab yang jelas atau mendadak, mati karena kecelakaan kendaraan bermotor, mati dibunuh, mati  bunuh diri dan mungkin banyak lagi sebab kematian lainnya. Ada anak kecil yang mati, ada remaja yang mati dan ada orang tua lanjut usia yang juga mati.

Kita tidak pernah tahu apakah kematian seseorang itu husnul khatimah ataukah suul khatimah, kita hanya tahu tanda-tandanya dan juga melihat amal ibadahnya selama masih hidup, selebihnya hanya Allah yang Maha Tahu. Sebagaimana Allah tidak pernah memberitahu tahu kapan, dimana dan bagaimana cara kematian makhluknya, tidak ada satu pun makhluk yang tahu bahkan nabi Muhammad sendiri tidak diberitahu oleh Allah Swt.

Ada orang yang ketika siang masih berbicara dengan kita tiba-tiba malamnya dijemput oleh Malaikat maut. Ada teman yang malamnya masih bercanda dengan kita tidak tahunya esok pagi telah menghadap Allah Subhanahu wa taala. Bahkan ada orang yang kita saksikan menghadapi sakaratul maut.

Kematian itu adalah rahasia Allah semata. Allah mengingatkan kita yang lebih kurang maksudnya adalah berusahalah untuk duniamu seolah kamu hidup untuk selamanya dan berusahalah untuk akhiratmu seolah kamu akan mati esok pagi. Jadi sudah jelas bahwa ada yang akan kita bawa menghadapi kematian yaitu amal ibadah.

Orang beriman pasti mengingat mati, dia akan berupaya menyiapkan bekal yang banyak menghadapi alam gaib atau alam barzakh setelah mati. Suatu alam yang tidak mampu diketahui oleh manusia yang hidup karena tidak ada satu pun manusia yang kembali ke dunia setelah kematian dialaminya.

Kita hidup di dunia yang sudah maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dimana telah menguasai peradaban manusia. Semua itu kadang-kadang melalaikan kita dari ketaatan kepada Allah, bahkan melupakan kewajiban kita kepada Allah seperti shalat wajib yang lima waktu.

Karena indikator seseorang itu benar-benar seorang muslim cukup pada shalat yang dilakukannya yang tercermin pada watak dan karakternya yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu melihat ibadah-ibadah yang lain tapi cukup dengan shalat ini saja kita sudah dapat menilai keislaman seseorang.

Berapa banyak orang sekarang ini yang kita saksikan sama sekali tidak melaksanakan shalat padahal mereka mengaku muslim. Mereka asik dengan pekerjaannya dan tidak menghiraukan azan apabila telah berkumandang. Mari kita perhatikan jangankan shalat berjamaah di masjid bahkan di rumah dan kantor pun mereka tidak kelihatan melakukan shalat. Orang seperti ini bukan hanya yang muda bahkan yang tua pun tidak sedikit. Bahkan ada yang bangga bahwa dirinya tidak shalat seolah-olah menentang Allah, seakan mereka hidup selamanya dan tidak akan mati. Nauzubillah min zaalik.

Saya masih ingat pada suatu kali ketika dalam suatu rapat terdengarlah suara azan dari masjid, selesai azan maka pimpinan rapat memberitahukan bahwa rapat diskor untuk beberapa menit dan mengajak peserta rapat untuk shalat berjamaah di masjid. Saya sangat setuju kepada tindakan pimpinan rapat ini dan perlu diacungi jempol, karena biasanya pimpinan rapat hanya sekedar menghentikan kegiatan ketika azan berkumandang tapi setelah itu rapat kembali dilanjutkan, ini salah dan tidak perlu diikuti.

Memang kita wajib menyadari bahwa kita tidak tahu ketika beberapa saat setelah azan kemudian rapat dilanjutkan apakah kita masih menghirup udara dunia ini, padahal kita belum memenuhi kewajiban shalat. Sebagian peserta rapat dengan segera menuju masjid tapi sebagian lagi ada yang nongkrong dan ada pula yang menuju ke kedai. Kita maklum kepada kaum ibu yang mungkin ada halangan tapi bagaimana dengan kaum bapak?. Tidak ada alasan lain karena mereka memang tidak shalat.

Kondisi seperti ini memang sangat memprihatinkan, bagaimana cara mewariskan nilai-nilai agama kepada generasi yang akan datang, apabila orang tuanya sendiri tidak shalat bagaimana mungkin anaknya akan melaksanakan shalat karena orangtuanya tidak pernah mencontohkan.

Sudah jelaslah bahwa kita harus sering mengingat kematian yang kapan saja pasti menemui kita bahkan kita menyongsong kematian tersebut. Ada suatu kisah seseorang yang takut mati, maka disuruhnya seseorang membuat sebuah peti khusus yang ditutup rapat dan dibawa ke sebuah negeri yang sangat jauh menghindari malaikat yang akan mencabut nyawanya. Setiba di negeri yang dituju ternyata malaikat sudah menunggu di sana dan mencabut nyawanya.

Kita tidak tahu bagaimana jadinya negeri ini duapuluh atau lima puluh tahun yang akan datang apabila generasi pada waktu itu jauh dari nilai-nilai agama dan negeri ini akan dipimpin oleh anak cucu kita yang sebagian mereka tidak diwariskan oleh orang tuanya pendidikan agama yang baik. Kita hanya berharap para pemimpinnya jatuh kepada orang-orang yang taat kepada Allah. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar