Jumat, 19 Oktober 2012

HABIB...






Hari itu Jum’at tanggal 12 Agustus 2011 bertepatan dengan 12 Ramadhan 1432, saya dan jamaah masjid lainnya baru saja selesai melaksanakan shalat Jum’at di masjid Syech Muhammad Yusuf Aur Pakan Kamis Kec.Tilatang Kamang. Setelah berdoa sejenak saya melihat jam menunjukkan pukul 13.00 Wib, firasat saya tidak enak maka langsung saja saya bergegas keluar masjid mengambil motor dan memacunya menuju tempat bersalin (rumah Bidan) yang berjarak tidak sampai satu kilometer dari masjid.

Tidak lama kemudian saya sampai di tempat bersalin, dan ternyata benar isteri saya sudah hampir melahirkan, mungkin bayinya menunggu kedatangan ayahnya. Beberapa saat setelah saya masuk ke dalam ruangan terdengar tangis bayi sejenak namun kemudian berhenti. Meskipun hati agak was-was juga tapi beberapa detik kemudian barulah hati saya menjadi tenang. Alhamdulillah gumam saya dalam hati. Tepat pukul 13.05 Isteri saya selamat melahirkan seorang bayi. Ternyata benar bayi yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki dan sesuai dengan hasil USG sebelumnya. Pada saat mau dilahirkan lehernya kebetulan dililit oleh tali pusar. Kata orang tua-tua kelak anak yang dililit tali pusar ini akan gagah dan tampan. Alhamdulillah bidan yang membantu persalinan bertindak dengan cepat dan profesional.

Saya sangat bersyukur kehadirat Allah Swt, karena keinginan serta harapan kami selama ini dikabulkan-Nya dengan memberikan amanah seorang bayi laki-laki. Karena tiga orang anak kami sebelumnya adalah perempuan. Syukur Alhamdulillah.

Rasa sukacita tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, baik bayi maupun ibunya sehat wal’afiat dimana telah selamat dalam proses melahirkan secara normal, suatu karunia Allah yang sangat berharga bagi kami sekeluarga.

Bayi yang imut dengan berat 3,8 kg ini kami beri nama Muhammad Habiburrahman dengan panggilan Habib, sebuah nama yang mengandung doa dan pengharapan semoga dicintai oleh Yang Maha Pengasih. Harapan kami sangat besar semoga amanah yang dikaruniai Tuhan ini dapat kami jaga dan pelihara serta akan kami didik dengan sebaik-baiknya.

Hari berganti hari bulan pun berganti bulan, Habib anak kami tumbuh dan berkembang dengan sangat baik, kami dan seluruh keluarga besar menaruh cinta dan kasih sayang yang bersangatan kepadanya. Sebagai sesuatu yang wajar terhadap si bungsu dan satu-satunya anak laki-laki. Perkembangannya sangat membahagiakan, apabila dibandingkan dengan saudara sepupunya Hamidah yang lebih tua duapuluh satu hari, Habib cukup cepat perkembangan berat badannya. Setiap orang selalu menyatakan pujian dan doa semoga kelak menjadi tumpuan harapan kedua orang tuanya. Amin.

Habib adalah ibarat permata yang sangat berharga dalam keluarga kami, dia seolah pelipur dahaga di tanah tandus dan gersang. Teman bermain bagi tiga orang kakak-kakaknya yang semuanya perempuan yaitu Nurul, Sabila dan Rafa. Terutama kakak di atasnya Rafa selalu menjadi teman setianya ketika kakaknya yang lain pergi sekolah, ayah dan ibunya juga pergi mengajar atau ketika neneknya sedang di dapur. Mereka berdua Habib dan Rafa setiap hari bercengkerama dan bercanda sambil menonton televisi. Kakak adik ini begitu saling menyayangi satu sama lain. Ketika bangun pagi-pagi apabila Habib menangis maka dia dibawa ke tempat tidur kakaknya Rafa, maka Habib akan berhenti menangis.

Pada umur 11 bulan Habib sudah mulai pandai berjalan, memanjat-manjat dan sebagainya. Kadang-kadang benda yang ditemuinya dibuangnya ke halaman melalui jendela, mungkin tidak berguna menurut anggapannya. Meskipun belum pandai berbicara dan memanggil ayah dan ibu tapi dia sudah paham bila dicegah memegang atau mengambil sesuatu. Dia sudah mengerti apabila ibu dan ayahnya mau pergi, maka dia sudah berdiri di pintu melambai-lambaikan tangan. Disamping itu dia sangat respek dengan tamu yang datang kemudian mendekat sambil tersenyum manis, berbeda dengan kakaknya Rafa yang justru sebaliknya.

Suatu kali di sore hari ketika saya baru saja selesai memimpin rapat tiba-tiba datang telpon dari isteri saya mengabarkan bahwa Habib sedang demam dan panasnya tinggi, saya masih ingat hari itu Jum’at tanggal 6 Juli 2012. Beberapa saat saja bicara kemudian handphone mati, membuat saya terkejut bukan main. Tanpa berpikir panjang saya segera pamit kemudian langsung pulang dan memacu motor, di dalam perjalanan perasaan saya resah tidak karuan. Sampai di rumah Alhamdulillah panas si Habib mulai turun dan sore itu juga saya langsung pergi meminta obat ke bidan. Padahal besoknya kami berencana akan berangkat ke Padang dengan membawa Habib dan Rafa, karena Isteri saya akan mengikuti PLPG untuk guru sertifikasi selama sepuluh hari. Tapi Alhamdulillah berkat pertolongan Allah Habib sudah berangsur membaik dia tetap dibawa ke Padang. Tapi meskipun demikian di Padang tetap diminta juga obat ke bidan yang ada di sana.

Selama di Padang, saya menjaga si Habib ketika ibunya mengikuti PLPG, tapi syukurlah kesehatannya semakin membaik. Namun sejak pulang dari Padang Habib tidak mau lagi meminum ASI, maka diberikanlah susu bubuk bayi untuk seterusnya dan dia selalu diberi minum susu bubuk bayi merk Lactogen 750 gram, yang dihabiskannya hanya dalam satu minggu saja. meskipun sebelumnya susu ini sekedar membantu dan hanya diberikan ketika ibunya pergi mengajar.

Memasuki bulan September dimana pada bulan ini banyak acara keluarga yang cukup padat, dimulai dengan acara pernikahan dan pesta perkawinan kemenakan/keponakan saya pada tanggal satu dan dua, kemudian acara meminang anak sepupu tanggal 6, selanjutnya rencana kenduri kahwin (keponakan juga) di Malaysia tanggal 30 September. Untuk acara yang terakhir ini saya sudah agak berat untuk berangkat ke Malaysia karena perkiraan saya mungkin ada saudara-saudara lain yang bisa berangkat ke sana, tapi ternyata tidak satu pun yang bisa berangkat sebagai mamak/paman mewakili keluarga dari kampung. Apalagi saya pun baru pulang dari malaysia pada bulan Mei menghadiri kenduri kemenakan yang lain pula.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan bermusyawarah dengan anggota keluarga maka diputuskanlah bahwa saya yang akan berangkat ke Malaysia. Karena keputusan hanya dua, jadi berangkat atau tidak. Menimbang keadaan inilah saya kuatkan diri untuk pergi ke Malaysia. Karena merujuk kepada pepatah Minangkabau yang berbunyi “kaluak paku kacang balimbiang, timpuruang lenggang-lenggangkan, dibawo urang ka saruaso, anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan, tenggang nagari jaan binaso”. Artinya adalah: anak (anak kandung) dipangku/digendong sedangkan kemenakan (anak saudara perempuan) dibimbing, berbuat baik dengan orang kampung agar nagari kita aman sentosa. Maksudnya kita tidak boleh membeda-bedakan antara anak dengan kemenakan dalam hal mendidik dan mengurus keperluannya, meskipun kita utamakan anak kandung tapi kemenakan kita bantu juga sepanjang menurut aturan adat yang berlaku.

Keputusan bahwa saya yang akan berangkat mewakili keluarga dari kampung kemudian dikhabarkan kepada keluarga di Malaysia, dimana nantinya saya akan berangkat dengan kapal verry dari Dumai menuju Port Klang Malaysia. Dan saudara di Malaysia pun telah bersedia akan menjemput nantinya ke pelabuhan Klang. Saya sendiri kemudian langsung membeli tiket mobil travel yang akan ditumpangi menuju Kota Dumai. Keberangkatannya adalah pada hari Rabu malam tanggal 26 September 2012.

Rabu malam itu sekitar pukul 20.00 Wib saya sudah siap di rumah menunggu mobil travel yang akan menjemput. Sebagaimana biasa ketika akan berangkat tidak ada sedikitpun firasat dalam diri saya akan terjadi sesuatu nantinya yang tidak diinginkan. Setelah menyalami semua termasuk anak bungsu kesayangan, Habib, saya mencium pipinya beberapa kali yang ketika itu dalam gendongan ibunya. Sebelumnya seingat saya, saya sempat bercanda yang ditujukan kepada Habib. “Habib...ayo gantilah baju Bib kita akan berangkat lagi...”

Mobil travel yang menjemput pun telah sampai dan menunggu di depan di dekat masjid. Setelah pamit dengan mengucap salam saya segera menuju mobil travel sambil menyandang sebuah tas ransel dan menjinjing bungkusan tas asoy /kresek. Singkat cerita, malam itu berangkatlah kami dengan beberapa penumpang lain dengan mobil travel BMW menuju Dumai. Penumpang hanya empat orang karena bangku di barisan belakang mobil APV itu sengaja dikosongkan karena diisi oleh barang-barang penumpang dan kiriman paket. Perjalanan malam itu boleh dikatakan lancar namun sedikit terlambat sampai di Kota Dumai, kira-kira pukul 07 pagi hari Kamis, biasanya mobil travel tiba pukul enam atau setengah tujuh, hal ini disebabkan karena ada beberapa penumpang yang turun di kota Duri.

Setelah mengurus beberapa keperluan berkaitan dengan paspor dan tiket verry melalui agen biro travel, maka pukul 10 pagi saya dan beberapa orang lainnya diantar menuju pelabuhan Dumai. Beberapa saat kemudian langsung antrian untuk cap paspor oleh petugas imigrasi. Kebetulan penumpang lumayan banyak hari itu. Kemudian setelah selesai langsung menuju kapal verry yang sudah menunggu. Tepat jam 11 pagi kapal verry pun mulai bergerak meninggalkan pelabuhan Dumai dengan tujuan pelabuhan Klang di Malaysia. Ketika kapal verry baru saja berjalan membelah laut, perut saya terasa lapar. Tanpa pikir panjang saya langsung membuka nasi bungkus yang sudah dibeli sebelumnya ketika di Dumai dan menyantapnya sampai habis. Beberapa saat kemudian kru kapal pun memberikan makanan berupa mie goreng, kadang-kadang nasi goreng, dan dibungkus kotak gabus kemudian diiringi dengan sebuah air mineral gelas. Dan saya juga memakan mie goreng tersebut.

Kira-kira setengah jam kemudian perasaan saya menjadi tidak enak, perut terasa sakit tapi bukan mau mabuk, begitu pula dengan kepala juga terasa sakit. Keringat bercucuran membasahi badan seperti orang mandi. Rasanya badan tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan. Keadaan ini berlangsung hampir setengah jam tapi saya terus menguatkan hati sambil berdoa. Alhamdulillah berangsur-angsur rasa sakit itupun kembali pulih. Selama menempuh perjalanan lebih kurang tiga setengah jam sampailah kapal verry di pelabuhan Klang yang membawa penumpang termasuk saya, tiba di Port Klang kira-kira pukul setengah empat waktu Malaysia.

Turun dari kapal verry, saya sebagaimana juga penumpang lainnya segera bergegas menyusuri jalan berupa koridor yang dibatas kiri kanan, karena akan menghadapi antrian lagi untuk cap paspor. Setelah antrian selama lebih dari setengah jam tibalah giliran saya dan tanpa banyak tanya dari petugas imigrasi Malaysia, saya terus memasukkan tas ke mesin x ray, dan akhirnya selamat keluar dari ruangan imigrasi.

Di luar kantor imigrasi / imigresen saya sudah ditunggu oleh kakak saya Masni yang menjemput dari Kuala Lumpur. Kami langsung menuju loket Kommuter atau kereta api listrik dan segera naik ke atas kommuter yang nampak sangat lengang oleh penumpang. Kami menunggu keberangkatan kommuter hampir setengah jam. Kommuter akhirnya berjalan santai dengan membawa penumpang yang tidak terlalu banyak.

Sementara itu di jorong Dalam Koto, ribuan kilometer jaraknya dari tempat dimana kami naik kommuter, Habib selesai dimandikan ibunya sore itu sekitar pukul 17 Wib dan dipakaikan pula baju kaos lengan panjang dan celana panjang warna biru tua dengan tulisan di depan bajunya “tendangan si madun”. Beberapa saat kemudian Neneknya yang dipanggil Tuo baru pulang dari melayat. Alangkah bahagianya hati Tuo melihat cucu sudah mandi dan memakai pakaian yang bagus. “Wah, sudah bagus ya Habib, cucu tuo..., sayang tuo dulu”, Habib menyodorkan kedua pipinya untuk dicium. Tuo mencium kedua pipi sang cucu dengan penuh kasih sayang.

Ibunya kemudian hendak pergi mencuci ke belakang, maka dibawanyalah Habib ke dalam kamar tuonya, dimana tuonya telah berada dalam kamar dan menutup pintu, tapi Habib menangis, kemudian dia diberi makanan sepotong pias kacang. Tuonya kemudian memanggil kakaknya Nurul untuk menggendong Habib sebentar karena Tuo sedang ganti pakaian. Ketika di dalam gendongan kakaknya tersebut suara Habib terdengar memekik agak keras seperti tersedak. Tuo terkejut dan berfikiran mungkin dia tertelan sesuatu, tapi mulutnya sudah tertutup rapat dan badan sudah lemas, terlihat tangannya masih menggenggam pias kacang.

Melihat keadaan demikian Tuo memanggil ibunya di belakang, ibunya bergegas untuk melihat keadaannya. “Habib.., maafkan ibu sayang, ibu telah salah” ujar ibunya dengan perasaan gelisah. Ibunya segera menelepon bidan Elvia di pakan Kamis dan menceritakan keadaan Habib. Ibuk Bidan segera menyuruh agar diantar langsung ke UGD Puskesmas Pakan Kamis. Segera saja ibunya memanggil kak Sus, yang rumahnya beberapa puluh meter ke depan untuk mengantarkan Habib ke UGD. Ibunya segera menggendong Habib dengan membonceng motor ke puskesmas.

Tiba di Puskesmas, petugas segera memeriksa dan melakukan tindakan medis apakah Habib tertelan sesuatu atau ada sesuatu tersangkut di kerongkongannya, tapi tidak ada dan kakinya pun sudah diangkat ke atas. Petugas medis puskesmas menyarankan untuk segera dibawa ke IGD Rumah Sakit Ahmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi. Di RSAM juga dilakukan upaya selanjutnya yang ditangani oleh tiga orang dokter. Istri saya menelpon Dr. Anbiar, ahli bedah yang merupakan saudara sepupunya dari pihak ayah, namun rupanya beliau sedang bertugas melakukan pembedahan pasien pula. Manusia berencana sedangkan Allah membuat keputusan, meskipun dokter telah berusaha sesuai dengan ilmunya, Habib tidak tertolong dan dia menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul enam kurang seperempat (17.45) Wib pada hari itu, Kamis tanggal 27 September 2012. Tidak beberapa lama kemudian dokter keluar memberitahukan bahwa Habib telah meninggal dunia.

Saya tidak dapat mengungkapkan bagaimana perasaan seorang ibu mendengar kematian anaknya. Tapi syukurlah pada saat yang bersamaan isteri saya ketemu dengan Ustadz Rajuddin, dan ustadz ini yang berusaha menenangkan dan mengingatkan isteri saya bahwa, anak adalah titipan atau pinjaman dari Allah dan Dia tentu berhak untuk mengambilnya kembali.

Kembali ke perjalanan saya. Perjalanan yang ditempuh dari Port Klang menuju Kuala Lumpur mencapai lebih kurang dua jam karena sering berhenti karena banyaknya stasiun yang dilalui. Kami akhirnya turun di stasiun Putra Kuala Lumpur dimana jam waktu itu telah menunjukkan kira-kira pukul 18.30 waktu Malaysia.

Keluar dari stasiun Putra kami dan kak Masni berjalan kaki menyusuri jejantas atau jembatan penyeberangan menuju stasiun LRT semacam kereta api listrik juga hendak ke hentian/terminal Bas Puduraya, rencananya mau beli tiket ke Kuantan Pahang tempat kemenakan akan melangsungkan pesta perkawinannya. Selama berjalan kaki itu tiba-tiba saya tersedak, terasa sakit sekali ke seluruh dada, untunglah ada air minum di tas ransel dan saya minum air putih itu sampai habis. Lama juga redanya akibat tersedak tersebut sampai kami tiba di stasiun LRT kira-kira sepuluh menit kemudian. Kak Masni terus menuju komputer penjual tiket LRT.

Baru saja menekan tombol layar sentuh dan akan memasukkan uang, nada dering hanphone kak Masni berbunyi. Di layarnya nama Irwan, yaitu kemenakan saya juga anak dari kak Masna. Saya tidak mendengar suara Irwan dari seberang, tapi dari raut wajah kak Masni nampak terkejut “Zul... anak zul yang kecil meninggal...” kata kak Masni kepada saya. Saya mengira pada mulanya anak Zul atau Hafizul yang adalah anak kak Masni ini. Barulah setelah kak Masni menjelaskan bahwa Irwan atau Wan terima telpon dari kampung. “Istri Zul menelpon sambil menangis dari kampung ke Wan, dia meminta supaya Zul balik kampung segera...” ujar kak Masni melanjutkan. Barulah saya tersentak dan percaya, badan saya terasa lunglai tidak berdaya.

Saya kaget bukan kepalang. Ya Allah... ujian apakah yang Engkau timpakan kepada hamba yaa Allah. Agak lama saya termenung seolah tidak percaya dengan berita ini, apa daya saya tidak dapat menelpon langsung karena kartu sim hanphone belum diganti. Hampir saja saya tidak mampu menguasai diri, untunglah Allah masih memberikan kekuatan. Ampunilah hamba ya Allah..Inna Lillahi wa Inna Ilaihi raajiuun....Engkau menitipkan seorang anak kepada kami tapi hanya sebentar ya Allah, sekarang engkau mengambilnya kembali, saya ikhlas ambillah ya Tuhan. Izinkanlah saya bersedih dan menangis tapi bukan menyesali takdir-Mu. Saya tidak mampu melukiskan dengan kata-kata bagaimana perasaan saya waktu itu. Saya setuju saran kak Masni supaya Irwan membeli tiket pesawat melalui internet dan malam itu juga segera kembali ke kampung. Kak Masni memutuskan untuk kembali ke stasiun Putra dan naik kommuter menuju Sungai Buloh, rumah dimana Irwan dan Mak nya tinggal. Dan Irwan akan menjemput ke stasiun Sungai Buloh.

Bagai petir yang menggelegar di siang bolong begitulah kira-kira berita dari kampung yang saya terima. Badan saya terasa lemas dan kaki sangat berat untuk dilangkahkan. Seandainya punya sayap tentulah saat itu juga saya langsung terbang ke kampung. Saya tidak sanggup menahan air mata yang terus mengalir dan menetes ke bumi. Kesedihan yang teramat sangat dan kepedihan yang tak sanggup dituliskan dengan kata-kata. Tapi walau bagaimanapun saya harus memaksakan diri ini untuk tetap kuat karena harus berjalan kaki kembali ke stasiun Putra untuk naik kommuter ke Sungai Buloh sejauh kira-kira 10 menit jalan kaki.

Kemudian datang kabar dari Wan, rupanya tidak ada pesawat yang berangkat malam ke Padang tapi yang ada pagi pukul tujuh dan sampai di padang pukul delapan. Saya hanya pasrah dan tidak mampu lagi berkata-kata. Malam itu saya bermalam di rumah kak Masna, malam yang sangat menyedihkan bagi saya. Hanya semalam di Malaysia. Karena besok pagi sebelum subuh harus segera berangkat ke Bandara KLIA (Kuala Lumpur Internasional Airport).

Semalaman saya sulit untuk tidur, selalu teringat putra semata wayang yang ditinggalkan di kampung sekarang telah dipanggil Tuhan nya menuju Surga. Saya ikhlas dan rela melepasnya pergi tapi kesedihan di dalam hati akan kehilangannya sulit untuk diusir. Air mata mengalir tiada henti, cobaan yang luar biasa yang menimpa saya kali ini. Saya teringat akan baginda Rasulullah SAW ketika putranya Ibrahim meninggal sewaktu berusia enambelas bulan, beliau menangis dan meneteskan air mata, dan tangan beliau menggigil. Sehingga para sahabat berusaha mencegah, “Aku tidak melarang kalian menangis, yang aku larang adalah menangis dengan suara keras” kata beliau kepada sahabat. “apa yang kalian lihat pada diriku sekarang ini adalah karena pengaruh cinta dan kasih di dalam hati, orang yang tidak menaruh kasih sayang, orang lain pun tidak menaruh kasih sayang kepadanya”.

Kami orangtuanya sangat mencintai dan mengasihinya ternyata Allah lebih mencintai dan mengasihi melebihi cinta kami. Mungkin Allah sangat sayang apabila dia hidup lebih lama lagi mungkin dia akan teraniaya oleh kerasnya arus kehidupan dunia yang penuh kepalsuan dan kebohongan ini.

Pagi-pagi Jum’at sebelum subuh kira-kira pukul empat waktu Indonesia, saya yang diantar oleh Wan sudah berangkat dari Sungai Buloh menuju KLIA. Perjalanan ditempuh selama lebih kurang satu jam. Sampai di KLIA sudah masuk waktu subuh dan kami pun shalat subuh berjamaah. Beberapa saat kemudian Setelah cap paspor kami sarapan di ruang tunggu bandara, kemudian kami segera berjalan kaki menuju pesawat Air Asia yang sudah standby, yang waktu itu hujan cukup lebat dan membasahi landasan. Detik detik keberangkatan pesawat ditandai dengan hujan yang sudah reda dan ketika pesawat tinggal landas, matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Lebih kurang pukul 7.50 Wib pesawat landing dengan mulus di landasan udara Bandara Internasional Minangkabau.

Keluar dari bandara saya dan Wan segera naik taksi hendak ke kampung, Alhamdulillah perjalanan cukup lancar sehingga sampai di kampung sesuai dengan target yaitu pukul 10 pagi. Begitu turun dari taksi saya langsung menuju ke dalam rumah yang sudah dipenuhi karib kerabat dan para pelayat. Suasana di dalam rumah sangat ramai tapi hening. Di depan mata saya buah hati sibiran tulang telah terbujur tidak bergerak di tengah rumah. Melihat saya datang mungkin arwahnya berkata “selamat datang ayah, habib menunggu ayah saja lagi...”. Saya berusaha kuat dan rasanya saya sudah cukup kuat dan telah siap menerima semuanya karena ini bukan mimpi tapi kenyataan yang tidak lain harus dihadapi dengan kekuatan iman.

Wajahnya tampak cerah, bagaimana anak yang sedang tidur maka begitulah keadaannya. Saya duduk bersimpuh sambil mencium keningnya berulangkali, saya tak kuasa menahan kesedihan yang teramat sangat. Sambil terisak dan air mata tak kuasa saya bendung. Tapi saya yakin dapat menguasai diri berkat pertolongan Allah. “Habib...ini ayah nak, ayah datang untuk melepas mu nak...” Saya rasa semua orang ikut menangis menyaksikan. Isteri saya berusaha menenangkan, nampaknya dia lebih tabah daripada saya.

Beberapa saat kemudian saya ikut memandikan Habib untuk yang terakhir kalinya di dekat dimana dia sering saya mandikan semasa hidupnya. Proses penyelenggaraan jenazah berlangsung cepat. Setelah dikafani jenazah kemudian dibawa ke masjid untuk dishalatkan, sesuai usulan salah seorang tokoh masyarakat karena dia adalah jenazah bayi yang suci maka tidak perlu ditunggu hingga selesai shalat Jum’at. Jenazah kemudian dibawa ke samping masjid untuk dimakamkan karena disana tanah pekuburan kaum. Proses penyelenggaraan jenazah hingga ke kubur berjalan lancar dan selesai pukul 11 Wib.

Selamat jalan Habib anak ku dan selamat berbahagia karena engkau telah berada di surga dengan pengasuh mu, selama tiga belas bulan lima belas hari kami bersamamu dengan cinta dan kasih sayang kami yang tiada putus-putusnya tercurah untuk mu, kami merelakan dan kami ikhlaskan, semoga ayah dan ibu akan berjumpa dengan mu kelak, nak... di Yaumil Mahsyar. Insya Allah. (20/10/2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar