Selasa, 12 Maret 2013

ALIH GENERASI YANG MEMPERTAHANKAN NILAI-NILAI KEHIDUPAN




Oleh: Zulfadli, SH MK

Di tahun-tahun tujuh puluhan di nagari Kapau belum ada listrik, masyarakat masih menggunakan lampu togok atau strongkeng/petromax. Yang memiliki televisi hanya beberapa orang. Jalan-jalan masih berlobang lobang dan besar seperti kubangan kerbau, tidak ada alat komunikasi seperti telepon apalagi handphone, kalau mau ke pasar dengan bendi atau dengan angkutan pedesaan seperti mikrolet atau datsun. Waktu itu masih banyak pedati mengangkut barang atau gerobak demo yang didorong manusia. Padahal kita tahu bahwa nagari Kapau bertetangga dengan kota Bukittinggi yang artinya berbatasan secara langsung.

Membajak sawah masih memanfaatkan tenaga kerbau atau dengan cara tenaga manusia yaitu mencangkul, begitu juga dalam merontokkan gabah/padi masih sangat tradisional yang terkenal dengan mairiak menggunakan kaki, kemudian dibersihkan atau dianginkan menggunakan nyiru.

Hal diatas adalah sekilas kondisi pada waktu itu yang sangat kontras dengan keadaan sekarang. Bukan membanding-bandingkan tapi ini adalah suatu pemikiran bagaimana sikap kita memandang perkembangan zaman dari waktu ke waktu.

Kondisi masa dahulu itu boleh dikatakan sulit kita temui di masa kita sekarang ini, bahkan ada yang tidak mungkin lagi kita temukan. Maka bukan tidak mungkin ada orang yang rindu ingin kembali ke zaman dahulu, tapi jelas tidak akan mungkin.

Dan apabila kita ditanya mana yang lebih baik zaman dahulu itu atau zaman sekarang?. Bermacam macam jawaban yang muncul, tapi yang pasti ada kelebihan tapi ada juga kekurangannya. Kita harus adil dalam menilai bahwa zaman kita sekarang ini ada karena didahului oleh adanya zaman dahulu itu. Rentetan peristiwa dan eksistensi suatu generasi tentu saja berkaitan dari dahulu sampai sekarang dan itu boleh dikatakan suatu mata rantai yang selalu bersambung dan terhubung.

Tetapi timbul pula pertanyaan apakah mata rantai itu bisa terputus?. Tentu saja, karena suatu keadaan seperti bencana alam atau ada sebab lain yang menyebabkan satu generasi punah sehingga digantikan oleh generasi baru yang tidak bersangkut paut dengan generasi sebelumnya. Namun bisa pula disebabkan oleh kerusakan moral dan akhlak yang memutus mata rantai tersebut. Dan peristiwa yang berkaitan dengan generasi tersebut pun berbeda dengan peristiwa sebelumnya.

Yang kita bahas disini tepatnya adalah alih generasi dari generasi sebelumnya. Kenapa alih generasi, karena kita harus faham terlebih dahulu bahwa generasi sekarang berbeda dengan generasi sebelumnya dan yang sebelumnya lagi. Dan masanya juga berbeda, pola pemikiran berbeda, tantangan yang dihadapi pun berbeda serta banyak perbedaan lainnya. Meskipun banyak perbedaan tapi kita harus memahami bahwa ada persamaan, salah satunya adalah persamaan tradisi.

Kita membatasi tradisi tersebut di dalam suatu kaum atau suku bangsa, meskipun setiap bangsa mempunyai bermacam suku dan bermacam kaum, tapi setiap suku mempunyai tradisi yang berbeda dan kaum atau suku tersebut mewarisi suatu tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Dan biasanya bagi setiap yang mewarisi suatu tradisi maka tradisi ini tetap mereka pertahankan.

Kita ambil satu contoh di nagari Kapau, mereka mewarisi suatu tradisi yang disebut dengan adat yang dibuat atau disusun oleh nenek moyang sejak ratusan tahun yang lalu. Adat ini berisi pedoman hidup dalam bermasyarakat serta mengandung nilai-nilai moral dan akhlak yang apabila dilanggar maka akan ada sanksi atau hukuman bagi yang melanggar. Di nagari ini ada yang dinamakan adat salingka nagari yang artinya adat yang berlaku di lingkungan nagari. Disamping memberlakukan adat ini tentu saja juga mempedomani adat Minangkabau pada umumnya.

Judul yang saya angkat disini adalah Alih Generasi Yang Mempertahankan Nilai-nilai Kehidupan, arti sederhananya alih generasi adalah berganti generasi. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa generasi tahun tujuhpuluhan, berganti dengan generasi sekarang disaat mana kita hidup. Tentu karakter generasi tahun tujuhpuluhan tidak sama dengan karakter generasi tahun dua ribuan misalnya. Inilah yang saya maksudkan bahwa kita harus mewarisi karakter kuat yang ada pada generasi tahun tujuhpuluhan atau generasi-generasi sebelumnya karena ada hal yang positif yang mesti kita ambil.

Sebagai contoh bahwa dahulu ada karakter seorang anak yang hormat kepada orangtuanya, seorang kemenakan/keponakan yang hormat kepada mamaknya atau pamannya begitu pula sebaliknya. Sehingga terjadi saling hormat menghormati dan harga menghargai, sayang menyayangi serta saling kasih mengasihi. Seorang muda segan kepada yang lebih tua, seorang yang lebih tua menghargai yang lebih muda dan sesama besar saling berkawan.

Saya tidak akan mengutarakan disini apa yang terjadi di zaman kita sekarang, karena kita sudah tahu jawabannya. Sekarang mari kita introspeksi diri, bermuhasabah karena mungkin di antara keluarga kita, kaum kerabat kita terdapat hal-hal yang tidak sepatutnyanya atau kita sendiri yang banyak lalai. Maka begitu pentingnya adat istiadat yang bersendikan nilai agama dalam membentuk pribadi yang berkarakter, maka inilah yang harus kita tanamkan pada diri kita masing-masing terlebih dahulu. Kita tidak perlu kuatir dengan kerusakan moral dan akhlak di sekitar kita yang akan mempengaruhi, karena kita telah membangun benteng yang kuat dalam diri masing-masing. Mari kita lakukan perubahan pada diri kita dari yang kurang/tidak baik kepada yang lebih baik. (13/03/2013)


Makna Muhasabah

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’

Gambaran Umum Hadits

Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.

Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan 

Hadits di atas dibuka Rasulullah dengan sabdanya, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’ Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.

Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’
Dalam Al-Qur’an, Allah swt. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai visi besar ini, di antaranya adalah dalam QS. Al-Hasyr (59): 18–19.

Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.

Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.

Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw, dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ’berangan-angan terhadap Allah.’ Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Urgensi Muhasabah 

Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.

1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:
‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.
Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak. Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.

2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:
‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.
Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.

3. Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya’ (21): 1].

Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi 

Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.

1.Aspek Ibadah
Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]

2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki
Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)

3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman
Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)

Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.

4. Aspek Dakwah
Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.

Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.

Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?

Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]

Pare: Si Pahit yang Luar Biasa


|

Islamedia - Rasa pahitnya membuat orang pada umumnya tidak menyukai buah yang satu ini, namun cara masak yang baik membuat buah ini banyak dijadikan santapan lauk dirumah-rumah bahkan di restoran mewah. Meskipun rasanya pahit, buah pare memiliki banyak manfaat.

Pertama manfaat buah pare adalah untuk kesehatan adalah dapat menjadi penangkal sel kanker. Manfaat ini dapat diperoleh karena pare mengandung zat lesichin yang dapat meningkatkan kekebalan untuk menangkal perkembangan sel kanker. Tidak hanya itu, buah pare juga memiliki kandungan beberapa zat yang dapat mencegah sel kanker.

Sehingga bagi Anda yang bukan penderita kanker dapat mengonsumsi buah pare untuk mencegah serangan kanker. Selain sebagai makanan, pare juga dimanfaatkan untuk pengobatan. Kadar kalsium didalam buah pare tergolong tinggi, sehingga mampu menaikkan produksi sel-sel beta dalam pancreas untuk menghasilkan insulin. Bila insulin dalam tubuh mencukupi, mungkin kadar glukosa membanjir dapar dicegah, sehingga kadar glukosa dalam darah akan menjadi normal atau menjadi terkontrol Senyawa fitokimia lutein dan likopen didalam buah pare berkasiat sebagai anti kanker, antibiotika, antivirus, perangsang produksi insulin, penyeimbang tekanan darah dan kadar gula darah, perangsang nafsu
makan dan pembasmi cacing usus. Ditemukan pula zat yang luar biasa pada buah pare, yakni senyawa anti HIV-AIDS yaitu alpha-momorchorin, beta-momorchorin dan MAP 30 (Momordica antiviral protein 30). Zat berkhasiat ini banyak terdapat pada biji pare tua. Buah pare juga kaya serat, vitamin C, karoten, dan kalium. Seratnya baik untuk menjaga kesehatan pencernaan, dan karotennya dapat meningkatkan aktivitas dan kesehatan mata, seperti karoten pada wortel.

Kalium punya kemampuan mengatasi konsumsi natrium yang berlebihan sehingga membuat pembuluh darah lebih lentur, sehingga baik untuk kesehatan jantung. Sedangkan vitamin C pada buah pare punya khasiat memelihara kecantikan dan mengatasi ancaman dari sinar ultra violet. Hal ini disebabkan karena setiap 100 gram pare mengandung 120 ml vitamin C.
Pare yang masih muda digunakan sebagai obat diabetes, gangguan pencernaaan, obat malaria, penyakit kuning dan bronkhitis. Daun pare juga tidak kalah penting dengan buahnya. Beberapa manfaat daun pare, diantaranya dapat menyembuhkan batuk, menurunkan panas, mematikan cacing kremi, mengobati bisul, dan bermanfaat juga untuk membersihkan darah bagi wanita yang baru melahirkan.
Selain buah dan daunnya, bagian pare yang juga bermanfaat untuk mengobati penyakit, adalah akarnya. Akar pare berkasiat untuk mengobati disentri amuba dan wasir. Biji pare sendiri, merupakan atioksidan yang cukup kuat yang dapat menghambat pembentukan sel kanker dan mencegah penuaan dini.

Senin, 21 Januari 2013

Boleh Kami Numpang Shalat Di Sini…?!

Redaksi 1 – Selasa, 10 Rabiul Awwal 1434 H / 22 Januari 2013 06:54 WIB


Terkadang untuk menyampaikan sebuah kebenaran tidak perlu ceramah dan retorika. Tutur kata yang santun & perilaku mengesankan dapat membuat seseorang simpati lalu jatuh hati.
Ubaid adalah seorang pegawai. Belasan tahun sudah ia bekerja di sebuah bank swasta. Orangnya jujur, rajin dan taat beribadah. Agama baginya bukan hanya di masjid dan dinikmati sendiri. Namun agama menurutnya adalah dakwah, berbagi dengan sesama sehingga nilai dan sinarnya dapat dirasakan oleh orang lain.
Ubaid beruntung karena mendapatkan fasilitas KPR dari kantornya. Dua minggu sudah ia mencari-cari rumah yang sesuai dengan plafond kantor dan sesuai pula dengan keinginannya. Allah Swt menunjukkan rumah yang sesuai untuknya di sebuah bilangan di Ciputat – Tangerang, Cirendeu tepatnya.
Ubaid menceritakan kepada istrinya rumah yang baru saja dilihat.  Sore itu Ubaid berjanji untuk mengajak istrinya untuk melihatnya sekaligus meminta persetujuan atas rumah yang dimaksud.
Setengah enam sore, Ubaid & istri berangkat dari rumah menuju Cirendeu. Baru separuh jalan, terdengarlah kumandang adzan Maghrib. Mendengarnya, Ubaid berujar kepada istrinya , “Shalat Maghrib kita numpang saja ya di rumah yang mau kita lihat..!” Istrinya pun mengiyakan usul Ubaid.
Ubaid & istri sampai di rumah itu. Pemilik rumah menyambut mereka dengan seulas senyum. Mereka dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Dalam pembicaraan yg mereka lakukan, Ubaid & istri mengetahui bahwa ibu pemilik rumah adalah seorang janda usia 50 tahun lebih beranak dua.
“Berapa bu rumah ini mau dijual?” tanya istri Ubaid kepada pemilik rumah. “Saya mau lepas dengan harga 300 juta” sahut pemilik rumah.
“Gak boleh kurang?” tandas istri Ubaid.
“Itu juga sudah murah… Kemarin ada yang tawar 260 juta saya gak kasih” jawab pemilik rumah.
Mendengarnya Ubaid & istri menjadi paham harga yang diinginkan pemilik rumah, namun plafond dari kantor untuk Ubaid hanya Rp 250 juta. Ubaid & istri saling berpandangan. Budget mereka tidak sesuai dengan harga rumah yg diinginkan.
***
Ubaid melirik jam di pergelangan tangannya. Masya Allah…! Waktu Isya sebentar lagi tiba, padahal Ubaid & istri belum shalat Maghrib…
Ubaid lalu berkata kepada pemilik rumah, “Ibu, boleh kami numpang shalat di sini?”
Mendengar kalimat itu rona wajah pemilik rumah berubah drastis. Tampak kebingungan & sedikit tegang. Ubaid merasakan hal itu, ia pun meralat kalimatnya, “Kalo gak boleh shalat di sini, masjid yang terdekat dimana ya…?”
Kalimat ini pun menambah kekikukan bagi pemilik rumah, dan ia pun menyergah “Masjid jauh dari sini!!!”
Ubaid pun menjadi bingung atas sikap & jawaban dari pemilik rumah. Dalam hati ia menduga kalau-kalau pemilik rumah bukan seorang muslimah. Namun Ubaid & istrinya harus segera shalat Maghrib, ia pun berujar, “Kalo gak boleh shalat di dalam rumah, bolehkah kami shalat di teras?”
Merasa terdesak, pemilik rumah akhirnya mengizinkan. Maka jadilah Ubaid & istrinya shalat Maghrib di teras rumah. Tanpa alas apapun sebagai sejadah mereka.
***
Usai shalat, Ubaid dan istri melanjutkan pembicaraan dengan pemilik rumah. Tidak berlangsung lama, mereka pun berpamitan. Sayang malam itu tidak ada angka yang disetujui oleh mereka, baik oleh Ubaid dan istri ataupun dari pemilik rumah. Masing-masing bertahan dengan harga dan uang yang mereka mau.
“Malam itu akhirnya gak ada angka yang pas buat kita, beliau maunya 300 juta, padahal saya hanya boleh ngambil KPR maksimal Rp250 juta” demikian Ubaid bercerita kepada saya.
“Namun pak, aneh sungguh aneh luar biasa…. keesokan paginya, ibu pemilik rumah menelpon ke hp saya!” Ubaid melanjutkan ceritanya. Kalimat terakhir yang ia ucapkan membuat saya bertanya ada apa gerangan.
Ubaid bercerita bahwa pemilik rumah itu bertanya lewat pembicaraan telpon pagi-pagi sekali, “Pak Ubaid, saya nelpon cuma mau tanya, apakah setiap rumah yang hendak bapak beli harus disembahyangin dulu…?!”
Saat Ubaid sampaikan kalimat itu, dahi saya berkernyit dan membuat saya berujar, “Maksudnya apa?”
“Itu dia pak…, saya pun menanyakan hal yang sama kepada ibu itu?!” sahut Ubaid. Lalu Ubaid menceritakan bahwa ibu pemilik rumah itu menanyakan kepadanya apakah setiap rumah yang  mau dibeli harus dishalatin dulu?
“Saya bilang sama ibu tadi bahwa saat itu kami berdua belum shalat Maghrib padahal waktu Isya sudah hampir masuk… jadi apa yang kami lakukan adalah sebuah kewajiban bukannya untuk menentukan rumah itu cocok atau tidak…!” Ubaid menjelaskan kalimat yang ia sampaikan kepada ibu pemilik rumah.
“Tapi pak…, ibu itu berkata bahwa entah kenapa usai saya & istri pulang ia merasa cocok dan menjadi tenang hatinya, makanya pagi itu beliau menelpon ke hp saya” Ubaid menambahkan.
Lebih panjang Ubaid bercerita kepada saya bahwa ibu itu mengaku sudah hampir 30 tahun tidak pernah shalat sejak ia ditinggal oleh suaminya dan harus membesarkan kedua anaknya. Hidupnya panik dan sulit. Ia harus bekerja dan mencari nafkah. Duit dan duit yang ada dalam kepalanya, dia lupa sama sekali untuk menyembah Allah.
“Sekarang, ibu itu tidak kurang 3 kali dalam seminggu pasti menelpon atau berkunjung ke rumah. Dia mau belajar menjadi muslimah lagi katanya” Ubaid menjelaskan kepada saya.
“Rumah itu sudah kami beli darinya. Harganya pun amat menakjubkan…! Jauh dari dugaan kami semula… Kami membelinya dengan harga Rp 220 juta saja!!!” tambah Ubaid. Saya takjub mendengarnya.
“Lebih hebatnya lagi…, sampai sekarang rumah itu baru separuh kami bayar. Bukan karena keinginan kami, tapi keinginan ibu itu!!!” tegas Ubaid. Saya langsung bertanya keheranan , “Kok bisa begitu…?”
“Dia bilang bayar saja sisanya kalau saya sudah merasa puas belajar ibadah kepada pak Ubaid dan keluarga…!” Ubaid menutup kalimatnya sambil tersenyum.
***
Subhanallah…. kisah itu begitu berarti bagi saya yang mendengarnya. Terkadang bila ibadah sudah mewujud dalam akhlak seseorang, maka simpati dari sesama akan terbit dan menyinari kehidupan yang kita jalani. Ternyata, semuanya menjadi makin indah dengan ibadah!!!
Jazakumullah Ubaid atas inspirasinya!
-Ustadz Bobby Herwibowo-eramuslim