MALIN SULAIMAN
Memanglah bahwa generasi muda sekarang ini harus
dapat mengambil pedoman dan pelajaran dari pengalaman orang-orang tua yang
telah dapat berbuat menurut kemampuan yang ada padanya. Orang-orang tua itu
kini ada yang masih hidup dan ada pula yang telah memenuhi panggilan Tuhan.
Salah seorang dari 10 pendiri Bank Nasional ialah Sulaiman gelar Malin
Sulaiman kelahiran Induring, Kewalian Kapau Bukittinggi pada tahun 1887 dan
seorang tokoh agama dan ekonomi dimasa hidupnya.
Sebagaimana biasa pada waktu itu yaitu diakhir abad ke 19, Sulaiman
bersekolah pada S.D. 3 tahun yang
bernama Sekolah Desa. Dari sini Sulaiman pun melanjutkan pengetahuannya sebagai
santri yang belajar pada pelbagai madrasah, sesuai dengan tradisi pada masa itu
yaitu pada Madrasah Thawalib Kubang Tungkek Payakumbuh (1920), Ladang Lawas
(1922) dan akhirnya Thawalib Paarabek (1923). Setamat dari sini maka pemuda
Sulaiman menjadi guru di Surantih dan akhirnya pada tahun 1927 mengajar di
surau Inyik Djambek pada madrasah ber klas yang baru dibentuk dan diberi nama
Diniyah School bersama almarhum Ali Amran.
Dalam pada itu untuk memajukan kampung halamannya di Kapau, Sulaiman yang
sekarang telah resmi bergelar Malin (dari Mualim, guru) mendirikan Madrasah Diniyah
Kapau, dan untuk seterusnya memajukan pendidikan didirikannyalah Dana
Pendidikan Kapau yang diberi nama Vereeniging Studie Fonds Kapau (V.S.K) pada
tahun 1929.
Malin Sulaiman juga berminat di bidang dagang sehingga pada tahun 29 itu
juga didirikannyalah sebuah percetakan yang diberi nama Drukkery Baru di
Bukittinggi, dimana ia mengarang dan menerbitkan buku-buku seperti Tafsir Djuz
Amma dan Ilmu Bumi Indonesia.
Dari pengalaman memimpin percetakan ini, Sulaiman merasakan sekali bahwa
kekurangan modal adalah penghambat bagi setiap kemajuan di bidang dagang. Dari
itu haruslah ada sebuah Bank yang akan memberikan pertolongan kapital bagi para
saudagar dan pengusaha. Maka turutlah beliau dalam gerakan H.S.I Bukittinggi
mempelopori berdirinya Abuan Saudagar yang kemudian menjelma menjadi Bank
Nasional. Disekitar tahun itu kegiatan Malin Sulaiman memang memuncak sekali,
karena ketika itu pulalah beliau bergerak dalam partai politik yang menentang
penjajahan yaitu PERMI (Persatuan Muslim Indonesia) yang kontan-kontan
berdasarkan Islam dan Kebangsaan serta menuntut Indonesia Merdeka, yang
dipimpin oleh tiga orang bekas mahasiswa Mesir yaitu Iljas Jacob, H.
Djalaluddin Thaib dan H. Muchtar Luthfi.
Bertahun –tahun Malin Sulaiman meneruskan pelbagai kegiatannya di
Bukittinggi, tetapi ketika pada tahun 1934 dan sesudahnya Belanda memukul
pergerakan nasional dengan menangkapi para pemimpinnya termasuk ketiga pemimpin
PERMI tersebut di atas dan dibuang ke Digul, maka Malin Sulaiman mencari udara
baru dengan berhijrah ke Malaysia pada tahun 1937, dimana banyak merantau
orang-orang dari kampung Kapau. Barulah pada tahun 1941 menjelang masuknya
Jepang ke Indonesia Malin Sulaiman kembali ke tanah air.
Di masa pendudukan Jepang beliau tak berbuat lagi, karena kesehatan yang
semakin menurun. Dan pada tahun 1944, beliau menutup mata untuk selama-lamanya
tanpa mempunyai kesempatan untuk menyaksikan Indonesia Merdeka yang telah
beliau perjuangkan sekian lama. Beliau meninggal dalam usia 57 tahun. Semoga
arwah beliau akan mendapat tempat yng mulia di sisi Tuhan. Amin.
Sulaiman gelar Malin Sulaiman adalah Inyik/Kakek saya dari pihak ibu, dimana isteri beliau yang menurunkan ibu/mak saya bernama Rasyidah, jorong Padang Canting. Beliau mempunyai empat orang isteri, dimana isteri yang semua orang Kapau. Isteri beliau yang pertama di jorong Cingkaring bernama Sarikam dengan 8 orang anak semuanya laki-laki: Kardinal, Muchtar, Nawadir, Syamsir, Khaidir, Syamsadir, Dardir dan Yunis, isteri yang kedua Rasyidah di jorong Padang Cantiang dengan 8 orang anak 4 Lk dan 4 pr: Chaiyar, Maziar, Husnuddaiyar (mak saya), Marhamah, Marhemin, Darlis, Tanius dan Ardi, isteri yang ketiga Niar di jorong Induring dengan 4 orang anak 2 lk dan 2 pr: Syahrial, Nasri, Asma dan Yusra, isteri yang keempat Uniang di jorong Koto Panjang Hilir dengan dua orang anak pr: Rosma dan Yurlis.
BalasHapusAlhamdulillah...saya sebagai salah satu kerabat bangga pada inyiek Eta (pernah dpt cerita ini dari mamak alm nyiak datuak rangkayo tuo) ...semoga generasi muda Kapau bisa berprestasi seperti / lebih dari apa yg beliau sudah lakukan...we proud of you Nyik Eta..🙏👍👍👍
BalasHapus