Sabtu, 12 Oktober 2013

HABIB DAN HABIBAH


Habib
Habibah









Ya Allah
Menjelang genap setahun saat kesedihan itu datang
Engkau Tuhan kami Yang Maha Pengasih
telah menggantinya dengan kegembiraan

Ya Allah
Saat Engkau mengambil permata yang tak ternilai
dari kami yang bernama Habib
kami ikhlas melepasnya dan
kami ikhlas pula menerima permata yang baru
dari Mu yang bernama Habibah

Ya Allah
Biarlah permintaan kami tidak sepenuhnya terkabul
Biarlah belum terwujud harapan yang kami harapkan
tidak mengapa anugerah dari Mu diperoleh
dengan kesulitan dan pengorbanan
namun demikian tiada mengurangi sedikitpun
rasa syukur kami Kehadhirat Mu
Ya Allah

Ya Allah
Apa yang Engkau berikan adalah yang terbaik
karena ada hikmah disebaliknya
sebab segala anugerah dari Engkau
adalah ujian dan mesti kami terima

Ya Allah
Dan apa yang Engkau ambil adalah yang terbaik
karena ada hikmah disebaliknya
sebab segala yang kembali kepada Engkau
adalah ujian dan mesti pula kami terima

Pusara anak kami Habib di dekat masjid Istiqamah Gobah Kec.Tilatang Kamang


Sabtu, 21 September 2013

andaikan kita jadi merpati...

Wah... Rendang Masuk Makanan No 1 Terlezat di Dunia Loh!


makanan rendang
CNN sebagai salah situs travel populer di dunia sempat merilis artikel yang berisi 50 makanan terlezat di dunia. Namun, tulisan itu mendapat sentilan tajam dari para pembaca yang merasa daftar 50 makanan itu tidaklah valid dan terasa berat sebelah. Maka dari itu, CNN kemudian melakukan survei terbuka melalui Facebook poll guna mencari 50 makanan terlezat di dunia versi pembaca.
Hasilnya menunjukkan bahwa ada tiga dari 50 makanan terlezat di dunia berasal dari Indonesia. Sementara rendang menempati posisi pertama dan nasi goreng di posisi kedua, sate menyusul di urutan keempat belas. Berikut adalah hasil survei CNN mengenai 50 makanan terlezat di dunia.
1. Rendang (Indonesia)
2. Nasi goreng (Indonesia)
3. Sushi (Jepang)
4. Tom yam goong (Thailand)
5. Pad thai (Thailand)
6. Som tam (Thailand)
7. Dim sum (Hong Kong)
8. Ramen (Jepang)
9. Bebek peking (China)
10. Massaman curry (Thailand)
11. Lasagna (Italia)
12. Kimchi (Korea)

13. Chicken rice (Singapura)
14. Sate (Indonesia)
15. Es krim (AS)
16. Kebab (Turki)
17. Gelato (Italia)
18. Croissant (Prancis)
19. Green curry (Thailand)
20. Pho (Vietnam)
21. Fish and chips (Inggris)
22. Egg tart (Hong Kong)
23. Bulgogi (Korea)
24. Fried rice (Thailand)
25. Cokelat (Meksiko)
26. Penang asam laksa (Malaysia)
27. Tacos (Meksiko)
28. Barbecue pork (Hong Kong)
29. Chili crab (Singapura)
30. Cheeseburger (AS)
31. Fried chicken (AS)
32. Lobster (global)
33. Seafood paella (Spanyol)
34. Shrimp dumpling (Hong Kong)
35. Neopolitan pizza (Italia)
36. Mo nam tok (Thailand)
37. Potato chips (AS)
38. Warm brownie dan es krim vanilla (global)
39. Masala dosa (India)
40. Bibimbap (Korea)
41. Galbi (Korea)
42. Hamburger (Jerman)
43. Fajitas (Meksiko)
44. Laksa (Singapura)
45. Roti prata (Singapura)
46. Sirup maple (Kanada)
47. Fettucini alfredo (Italia)
48. Parma ham (Italia)
49. Lechon (Filipina)
50. Gui cuon (Vietnam)


Sumber: medantalk

Minggu, 08 September 2013

Kisah Presiden Muhammad Mursi dan Seorang Tunawisma

“Demi Allah, saya bersumpah tidak akan meninggalkan Dataran ini sehingga Mursi kembali atau saya dibunuh. Saya bukan anggota Ikhwanul Muslimin, tetapi saya ingin memberitahu kepada dunia supaya mereka tahu siapa Mursi sebenarnya,” demikian paragraf pertama sebuah artikel di harian Malaysia, Sinar Harian 5 Agustus 2013 lalu.
Itu adalah pernyataan Hajah Ilham Abdul Razak, seorang wanita Mesir berusia 65 tahun saat ditanya wartawan kenapa beliau bersusah-payah untuk mendukung Mursi.
“Jasa Presiden Mursi kepada saya tidak ternilai setelah beliau menyelamatkan saya dari hidup gelandangan sehingga berpeluang tinggal di sebuah rumah secara gratis,” ungkapnya.
Ia mengisahkan bahwa tahun 2012 lalu rumahnya hancur dan keluarganya meninggal akibat kecelakaan tersebut.
“Tahun lalu, rumah kami runtuh sehingga mengorbankan suami dan anak saya. Mulai dari hari itu saya hanya mampu berteduh di bawah jembatan dan tidur di tepi jalan. Pada bulan Desember tahun lalu, ketika sedang tidur lelap di tepi jalan, saya didatangi oleh 3 lelaki, dan saya sungguh terkejut karena salah seorang dari mereka adalah Mursi,” ungkapnya.
Ia bahkan mengaku tidak percaya bahwa orang yang berada di depannya adalah Mursi.
“Sukar untuk saya mempercayainya pada ketika itu. Presiden bertanya kepada saya kenapa saya tidur di jalanan. Selepas saya menceritakan kisah sebenarnya yang menimpa saya, air matanya bergenang,” kisahnya mengenang presiden pilihan rakyat Mesir tersebut.
Tidak hanya di situ, esoknya Hajah Ilham Abdur Razak dibantu Mursi melalui utusannya.
“Keesokan harinya, utusan Presiden datang menemui saya dengan surat perjanjian sewa sebuah rumah di bandar An Nujum bersama uang tunai  500 pounds Mesir,” pungkasnya.

Jumat, 30 Agustus 2013

Kajari Takalar, Feri Tas SH MHum MSi:




Setelah menjabat Kasi Pidum Kejari Kolaka, Feri kemudian terpilih menjadi Jaksa Satuan Tugas (Satgas) tindak pidana terorisme di Kejaksaan Agung RI di Jakarta. Selanjutnya mendapat tugas baru sebagai coordinator Perkeji di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Tak lama kemudian ditugaskan menjadi pelaksana tugas Kepala Kejaksaan Negeri Malili yang hanya beberapa waktu lamanya. Dari Malili selanjutnya menuju Takalar untuk mengemban amanah sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Takalar. (Foto: Muhammad Said Welikin)



------------------------


Tegakkan Hukum Tanpa Pandang Bulu


Kepala Kejaksaan Negeri Takalar Feri Tas SH MHum MSi, ternyata oranganya menarik dan simpatik.

Sebelum bertemu dengannya terbayang dalam benak, bagaimana sosok Kajari Takalar itu. Terpikir dalam benak, mungkin perangainya "keras dan garang" serta sulit ditemui sebagaimana lazimnya pejabat penting lainnya. Ternyata sangat jauh berbeda dengan apa yang terbayangkan sebelum menemuinya.

Orang nomor satu di Kejaksaan Negeri Takalar ini, ketika dua orang wartawan Tabloid LINTAS, Hasan Kuba dan Muhammad Said Welikin yang ingin menemuinya, sedang ngobrol santai dengan beberapa orang stafnya di teras kantornya.

Ketika melihat kedatangan kami, Feri Tas langsung menyapa; "Ingin bertemu dengan siapa?".
"Dengan Pak Kajari," jawab kami.
"Oh, mari," katanya sembari bergegas menuju ruangan kerjanya di lantai dua.

Kami berdua ikut di belakang Kajari. Kami saling berbisik dengan perasaan bingung. Rupanya yang berjalan di depan kami, adalah Kajari Takalar. Kami berdua merasa tidak mengenalnya, karena Pak Kajari tidak mengenakan tanda pangkat dan tanda jabatannya.

Setelah mengisi buku tamu, ajudan mempersilahkan kami masuk di ruangan kerja Kajari. Feri Tas yang semula duduk di meja kerjanya, pindah ke kursi tamu lalu mempersilahkan kami duduk. Setelah kami memperkenalkan diri, dengan senyum simpatik Kajari kemudian menanyakan maksud kedatangan kami.

Kami mengemukakan tentang persidangan kasus Hospital Elektirc Bad (ranjang elektrik) untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padjonga Dg Ngalle di Takalar yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Makassar.

Pria simpatik dan ganteng yang lahir di tanah kelahiran Bung Hatta (Proklamator dan Wakil Presiden RI Pertma) Bukit Tinggi Sumatera Barat pada tanggal, 26 Februari 1969, menjelaskan, proses dari penyidik sampai kasus itu dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor semuanya sudah melalui prosedur.

Mengenai uang pengembalian yang ditanyakan itu, sebenarnya bukan kewenangan Kajaksaan. Tetapi, pada prinsipnya semuanya telah berproses sesuai prosedur.

Feri Tas sebenarnya baru beberapa bulan menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Takalar. Tetapi dengan kehadirannya di Takalar meskipun baru seumur jagung itu, langsung membuat gebrakan untuk penegakan hukum.

Salah satunya adalah kasus Ranjang Elektrik di RSUD Pajonga Dg Ngalle Takalar. Kasus itu melibatkan lima orang tersangka. Dua orang mantan Direktur Rumah Sakit, dua orang mantan bendahara Rumah Sakit dan seorang wiraswasta.

Pengalamannya sebagai insan penegak hukum diawali dengan pengangkatannya menjadi Jaksa Muda di Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat. Berkat keterampilan dan kecerdasannya menjalankan tugas, berselang beberapa tahun Feri Tas diangkat menjadi Kepala Seksi Intelejen. Jabatan Kasi Intel ini juga diembannya dengan baik dan sukses yang membuat dirinya terorbit menjadi Jaksa Fungsional di Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewah (DI) Yogjakarta. Tak lama kemudian dimutasi lagi ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.


Atas prestasinya dalam melaksanakan tugasnya, membuat buat pria yang berperawakan sedang dan berkulit putih ini mengantarnya menduduki jabatan strategis dalam lingkup Instansi Kejaksaan. Dari Ibu Kota Negara, Feri Tas diterjunkan ke Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara untuk menduduki Jabatan Kepala Seksi Pidana Umum yang dilaksanakannnya dengan prestasi yang baik.

Setelah menjabat Kasi Pidum Kejari Kolaka, Feri kemudian terpilih menjadi Jaksa Satuan Tugas (Satgas) tindak pidana terorisme di Kejaksaan Agung RI di Jakarta. Selanjutnya mendapat tugas baru sebagai coordinator Perkeji di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

Tak lama kemudian ditugaskan menjadi pelaksana tugas Kepala Kejaksaan Negeri Malili yang hanya beberapa waktu lamanya. Dari Malili selanjutnya menuju Takalar untuk mengemban amanah sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Takalar.

Selama bertugas di Takalar sudah mengungkap beberapa kasus korupsi. Untuk mengungkap kasus korupsi dia mengaku tidak tanggung-tanggung.

"Harus dilaksanakan secara optimal sampai tuntas dan jangan tebang pilih. Hukum tidak melindungi siapa pun. Siapa yang melakukan kejahatan, harus ditindak demi keadilan dan kebenaran. Hukum tidak memiliki keberpihakan dan tidak mengenal siapa yang kebal hukum. Sebenarnya penegakan hukum bukan hanya tugas Kejaksaan semata, tetapi semua komponen masyarakat. Kalau masyarakat mengetahui ada orang yang melakukan pelanggaran hukum, harus segera melaporkannya untuk diproses sesuai hukum yang berlaku," papar Feri.

Artinya peran masyarakat termasuk salah satu komponen di dalam penegakan hukum. Termasuk jurnalis (wartawan) yang banyak menberitakan kasus korupsi. Untuk itu tugas wartawan juga termasuk unsur penegak hukum. Sehingga Kejaksaan perlu membangun komunikasi kemitraan dengan jurnalis media cetak dan elektronik, urai Feri Tas. (Hasan Kuba/Muhammad Said Welikin/LINTAS)


Curiculum Vitae:
------------------
Nama :  Feri Tas SH MHum MSi
Tempat/tanggal lahir  :  Bukit Tinggi, 26 Februari 1969
Pendidikan  :
- S1 Fakultas Hukum Unand 1988
- S2  HKA Bisnis UGM 2002
- S2  Administrasi Publik UNP Surabaya
Jabatan  Lain  :
- Dekan Fakultas Hukum Universitas 19 November, Kolaka (2005 - 2010)
- Dosen luar biasa di Universitas Kendari (2005 - 2009)
Jabatan Karier :
- Jaksa di Kejaksaan Tinggi Sumatra Barat
- Kepala Seksi Intelejen Kejaksaan Tinggi Sumatra
- Fungsionaris di Kejaksaan Tinggi DI Djokjakarta
- Fungsionaris di Kejaksaan Tinggi Jakarta Pusat
- Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kolaka, Sultra
- Satgas Tindak pidana Terorisme di Kejaksaan Agung RI
- Koordinator Perkeji di Kejaksaan Tinggi Sulselbar
- Pelaksana Tugas Kajari Malili
- Sekarang  :  Kepala Kejaksaan Negeri Takalar.  (*) 

Rabu, 28 Agustus 2013

Harun Ar-Rasyid Sang Khalifah


Bekas istana Daulah Abbasiyah di Baghdad, Irak.
Bekas istana Daulah Abbasiyah di Baghdad, Irak.

REPUBLIKA.CO.ID,
Harun menganggap penobatannya sebagai keagungan yang ditakdirkan.

Dilahirkan pada 17 Maret 763 M, Harun ar-Rasyid, khalifah Abbasiyah kelima, berusia 23 tahun saat ia duduk di takhta pada malam 15 September 786 M. Malam itu cerah dan terang, gilang-gemilang dengan sejuta bintang.

Menurut legenda, rembulan tampak melengkung seperti sebuah sabit di atas Istana al-Khuld atau Istana Keabadian. Sebuah bintang berada di pusat lengkungannya, seperti dalam bendera perang Muslim pada kemudian hari.

Keesokan paginya, Harun berangkat dari pinggiran Kota Isabadh dan secara resmi memasuki ibu kota Kerajaan Baghdad, didahului oleh pengawal istananya. Beberapa legiun tentara mengiringi. Senjata dan baju zirah mereka berkilauan ditimpa sinar mentari.

Benson Bobrick dalam The Caliph’s Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad mengilustrasikan, di antara para prajurit bersenjata lengkap itu, ada sepasukan tentara suci yang dikenal sebagai Anshar atau tentara Madinah. ‘Para pembela’ yang pertama kali direkrut ayahnya, Khalifah Mahdi.

“Tepi Sungai Tigris dipadati kerumunan orang yang berharap. Ribuan orang juga berbaris di jembatan besar perahu-perahu yang akan dilintasi sang khalifah. Karena itu, hari Jumat, Harun akan mengimami shalat Jumat,” tulis Bobrick.

Armada sampan dan tongkang yang penuh penonton benar-benar membuat macet sungai. Para pedagang serta bangsawan berdiri di atas panggung rumah-rumah berteras yang menghadap dermaga.

Di antara mereka, jubah hitam, serban hitam, dan bendera hitam Abbasiyah tampak mencolok seperti pulasan celak di wajah kota yang diputihkan mentari, berkilauan seperti batu oniks hitam ditimpa sinar matahari. Dari atap dan jendela, kaum perempuan meneriakkan nyanyian kegembiraan bernada tinggi.

Iringan-iringan kerajaan berjalan perlahan. Pasukan pengawal istana Harun mengenakan seragam yang sangat bagus. Di tengah-tengah mereka, Harun sendiri menunggang kuda dengan baju zirah lengkap. Tubuhnya tegap dan gagah di atas kuda perang putih yang dihias dengan luar biasa.

Disandangkan di bahunya, dengan gaya Islam, adalah Dzul Faqar yang masyhur, sebuah pedang bermata dua yang dirampas dalam Perang Badar pada 624 M. Pernah digunakan Nabi sendiri dan diberikan pada menantunya, Ali.

Konon, ia memiliki kekuatan ajaib dan berukirkan kata-kata la yuqtal Muslim bi al-kafir yang artinya “seorang Muslim tidak boleh dibunuh karena membunuh orang kafir”.

Siangnya, Harun mengimami shalat di masjid agung kota dan kemudian duduk di hadapan publik di halaman. Para tokoh terkemuka dan orang-orang kebanyakan dipanggil menghadapnya untuk mengucapkan sumpah setia dan menyatakan kegembiraan mereka atas penobatannya.

Pada hari berikutnya, dalam resepsi dan sidang resmi istana, khalifah yang baru menunjuk Yahya al-Barmak menjadi wazirnya dan memberinya mandat penuh.

Ketika memberikan stempel kerajaan padanya, Harun menyebutnya dengan penuh penghormatan sebagai ‘ayahnya’ sembari berkata, “Ayahku, aku berutang kedudukanku ini pada kebijaksanaanmu. Aku serahkan padamu tanggung jawab atas kesejahteraan rakyatku.”

“Aku ambil tanggung jawab ini dari pundakku dan meletakkannya di pundakmu. Memerintahlah dengan cara yang kau anggap terbaik, angkatlah siapa pun yang kau inginkan dan berhentikan siapa pun yang kau kehendaki.”

Kematian khalifah sebelumnya sekaligus saudaranya, Hadi, yang jelas-jelas karena pembunuhan hari itu hanya diketahui sedikit orang dan sama sekali tidak mengurangi kemeriahan dan suasana pesta.

Pun laporan mengenai pembunuhan Hadi pada kemudian hari tidak menodai kedudukan Harun yang tinggi di mata generasi berikutnya.

Sebagai seorang pengkaji sejarah, Harun sendiri memandang kenaikan dirinya sebagai sebuah contoh keagungan yang telah ditakdirkan. Hal ini diperkuat oleh pengetahuannya tentang Islam dan kebangkitannya yang tampak tidak mungkin.

Seiring dia menyelisik wilayah yang diwarisinya, di bawah bimbingan sekelompok guru terpilih, dia menyerap kisahnya nan agung dan kejayaan serta kekuasaan kini ada dalam genggamannya.